Mengungkap Ramalan Roy Kiyoshi Dan Pesawat Lion Air JT-610 Dalam Kacamata Agama

0
482

alwaliyah.com | Setelah peristiwa tragedi jatuhnya pesawat lion air JT 610, semua pihak yang ikut memantau kejadian ini pun mulai memberi deretan argumentasi yang bermacam ragam. Tidak hanya dari tim penyelamat, mereka juga dari pihak ahli penerbangan membuat dan memberi asumsi untuk hal-hal penting menyangkut jatuhnya pesawat lion air tersebut, namun lebih jauh dari itu, faktanya sebahagian kalangan masyarakat juga ikut menghubung-hubungkan persitiwa ini dalam kacamata mereka sendiri, salah satunya diantaranya adalah hal yang bersifat mistis atau lebih spesifik makna yang kami maksudkan disini adalah ramalan.

Beberapa hari setelah jatuhnya pesawat tersebut, media dibuat heboh karena datangnya seorang peramal terkenal bernamakan Roy Kiyoshi yang telah memprediksi dan meramalkan sebelum peristiwa ini terjadi, ia menyimpulkan bahwa kedepan akan adanya tragedi yang sangat menggemparkan indonesia, tragedi ini datang pada akhir tahun. Roy lebih menspesifikasi maksud perkataannya ini adalah jatuhnya pesawat diatas air, dan hal ini ternyata terbukti benar adanya, tepat pada hari senin tanggal 29 oktober 2018 sebuah pesawat yang dipilotkan oleh seorang bernama Bhavye Suneja itu jatuh di Perairan Karawang, Jawa Barat, hanya 13 menit setelah mengudara, pesawat ini membawa penumpang 189 orang, termasuk anak-anak, orang dewasa bahkan co-pilot dan awak pesawat.

Terkait apa yang dikatakan oleh pelamar Roy Kiyoshi, ia pernah berucap dalam sebuah stasiun tv swasta sebagai berikut :

“Ada api yang meledak-ledak dari ketinggian, lalu saya juga merasakan bunyi kayak ‘cyut cyut cyut’ semacam kayak alarm suatu pesawat, kemudian (jatuh) ke dalam air dan langsung (bunyi) ‘bluk’, Dan saya bisa merasa kalau mungkin saya bisa jabarkan ini adalah sebuah kecelakaan pesawat lagi, Saya melihat (kecelakaan pesawat) ini akan terjadi mungkin akhir tahun.” (Jaktv Official Channel Youtube, Judul : “Roy Khiyosi Ramal Pesawat Jatuh”- 20 Des 2017)

Melihat fenomena ini tentunya menjadi bahan pertanyaan imani kita kepada mereka, apakah mempercayai keadaan ini dibolehkan dalam islam, bagaimanakah islam memandang sebuah ramalan yang datang lalu faktanya benarlah terjadi, selain itu bagaimanakah sesungguhnya hukum seseorang yang mempercayai ramalan dalam keimanan kita ?, simak penjelasannya dibawah ini

Secara arti “lughat” atau “bahasa” ramalan dalam bahasa arab disebut عَرَّافٌ, yang artinya adalah dukun atau peramal. sedangkan secara definisi istilah yang umum, ramalan dapat diartikan “memprediksi sesuatu yang belum tentu terjadi”.

Tidak terdapat satupun kata khusus dalam Alquran yang menyebut kata “ramalan”, namun indikasi yang mengarah ke makna ini sangatlah banyak, diantara sebahagian ayat-ayatnya adalah :

قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللَّهُ

Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (QS An Naml :65)

قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعاً وَلا ضَرّاً إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (QS Al-Araf :188)

Dalam islam sendiri, hukum mempercayai peramal atau dukun adalah haram dan siapapun yang telah mempercayai mereka maka ia telah mendapatkan dosa besar. Arahan hokum ini telah dijelaskan sendiri oleh Baginda Rasulullah SAW dalam hadistnya sebagai berikut :

مَنْ أتى عَرَّافًا فَسَأَلهُ عَنْ شَئٍ لم تقْبَل لَهُ صَلاةُ أربعينَ ليلةً

“Barangsiapa yang datang ke tukang ramal lalu mempercayai apa yang dikatakan maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari.” (Sahih Muslim VII/37). Sunan Tirmidzi I/242; Sunan Ibnu Majah I/404.)

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلىَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

“Barangsiapa yang mendatangi seorang dukun atau peramal, lalu dia percaya pada apa yang dikatakan maka dia telah mengingkari (kufur) syariah Allah yang diturunkan pada Nabi Muhammad s.a.w.” (Musnah Ahmad IV/68)

عن معاويةَ بنِ الحكم السُّلمي رضي الله عنه قال : قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ ! أُمُورًا كُنَّا نَصْنَعُهَا فِي الجَاهِلِيَّةِ، كُنَّا نَأْتِي الكُهَّانَ قَالَ: فَلاَ تَأْتُوا الكُهَّانَ

“Ya Rasulullah, dulu kami banyak melakukan sesuau di masa Jahiliyah. Dulu kami biasa datang ke tukang ramal. Nabi bersabda: Jangan datang ke dukun tukang ramal.” (Hadits sahih riwayat Muslim no. 537)

Dari sumber apa yang telah dijelaskan oleh Allah dalam Al-Quran dan Rasulullah dalam hadistnya telah memberi pengertian kepada kita semua, bahwa mempercayai peramal atau dukun merupakan suatu hal yang diharamkan dan berdosa besar. Baik peramal yang memprediksi ramalannya benarlah terjadi atau peramal yang memprediksi ramalan yang belum atau tidak terjadi, semuanya adalah dosa besar.

Demikianlah terhadap seorang muslim, ia akan mendapat dosa besar jika ia mempercayai dan membenarkan peristiwa jatuhnya pesawat karena berita yang didasari oleh ramalan bukan karena kehendak dan ketentuan Allah SWT.

Peristiwa jatuhnya pesawat lion jt-610 adalah dibalik kekuasaan penggerak Allah SWT. Segala sesuatu yang terjadi didunia ini adalah dibawah kendali-Nya. Untuk itu segala sesuatu yang berasal dari unsur perkiraan, dugaan, atau ramalan merupakan tindakan yang sama artinya sudah mendahului ketentuan Allah SWT, walaupun memang apa yang didugakan itu atau apa yang diperkirakan itu benarlah terjadi.

Segala sesuatu yang benar, baik terjadi sebelumnya atau sesudahnya adalah merupakan takdir dan qadha sang maha kuasa alam semesta. Tidak ada yang lebih mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi melainkan Allah SWT. Tugas kita sebagai orang yang beriman adalah, mempercayai dan menerima sepenuh hati atas ketentuan Allah dan rasul-Nya.

Namun dibalik sisi ramalan yang sudah kita bahas diatas, tentunya kita juga pasti akan bertanya bagaimanakah sesungguhnya ramalan yang pernah dilakukan oleh segolongan para nabi dan rasul Allah, atau bagaimanakah status ramalan dalam islam jika yang meramal itu adalah segelintir para sahabat nabi, ulama dan orang-orang shaleh ?

Sumber : Tgk. Habibie M. Waly S.TH

Tinggalkan balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here