Kisah Menangisnya Rasulullah SAW Karena Ingin Berjumpa Dengan Umatnya

0
311

alwaliyah.com | Ada banyak kisah yang menerangkan bukti kasih sayang Rasulullah SAW kepada umatnya. Diantara kisah yang dimaksud adalah dapat kita lihat didalam kitab Hasyiah Al-Bujairimi, disana dicertitakan bahwa saat Nabi Muhamamd SAW berjumpa dengan Allah dalam peristiwa Isra dan Mi’raj, saat itu para penghuni surga dan seluruh malaikat berkumpul menyambut kedatangan kekasih Allah. Ketika Rasulullah SAW telah sampai dan berjumpa dengan Allah di tempat yang tidak diketahui melainkan Allah dan Rasul-Nya saja maka beliaupun sampai. Beliau melihat Allah dengan wujud yang sesungguhnya, seluruh makluk ketika itu menundukkan diri dan takut kepada Allah, sedangkan Nabi saat itu pingsan karena tak sanggup melihat wujud Allah. Para ulama menyebutkan beliau pesan sebanyak 3 kali. Setelah beliau siuman, maka saat itu beliau mengucapkan kalimat pertamanya kepada sang Maha Pencipta :

اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ للهِ

“Segala penghormatan yang berkat solat yang baik adalah untuk Allah.”

Allah tersenyum melihat kekasihnya dan mendengar ucapan kekasignya ini, lalu Allah menjawab pujian Nabi kita SAW :

السَّلاَمُ عَلَيْكَ اَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

“Sejahtera atas engkau wahai Nabi dan rahmat Allah serta keberkatannya”

Mendengar ucapan pujian Allah kepada beliau tersebut maka Rasulullah merasa malu dan senang, namun saat itu beliau mengingat umatnya yang selalu menemani dan setia kepadanya dalam mengembangkan perintah dakwah Allah dimuka bumi, serontak saat itulah beliau mengucapkan kalimat “salam sejahtera” kepada hamba-hamba Allah yang ikut serta mendapat sejahtera dari Allah, Rasulullah SAW berucap :

السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِاللهِ الصَّالِحِيْنَ

“Sejahtera ke atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang soleh”

Sungguh perjumpaan yang sangat menakjubkan. Ketika para makhluk Allah, termasuk bidadari, malaikat dan beserta makhluk-makhluk Allah yang lainnya menyaksikan peristiwa ini, serontak mereka berucap secara bersamaan :

أَشْهَدُ اَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَاَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهُ

“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad itu adalah pesuruh Allah”.

Ini adalah kisah pembuktian kasih sayang beliau kepada kita. Mengingat peristiwa perjumpaan yang maha penting ini akan terus diingat untuk seluruh para pengikut Nabi Muhamamd SAW di muka bumi maka Allah merangkum kejadian tersebut kedalam ibadah shalat kita.

Pada kisah yang lainnya, yang diriwayatkan didalam dalam Kitab Kanzul Ummal, menceritakan bahwa :

Saat Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam berkumpul bersama sahabat-sahabatnya yang mulia. Di sana hadir pula sahabat paling setia, Abu Bakar ash-Shiddiq. Kemudian terucap dari mulut baginda yang sangat mulia: “Wahai Abu Bakar, aku begitu rindu hendak bertemu dengan ikhwanku (saudara-saudaraku).

Suasana di majelis itu hening sejenak. Semua yang hadir diam seolah sedang memikirkan sesuatu. Lebih-lebih lagi sayidina Abu Bakar, itulah pertama kali dia mendengar orang yang sangat dikasihinya melontarkan pengakuan demikian.

“Apakah maksudmu berkata demikian, wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu?”Abu Bakar bertanya melepaskan gumpalan teka-teki yang mulai memenuhi pikiran.

“Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku.” Suara Rasulullah bernada rendah.

“Kami juga saudaramu, wahai Rasulullah,” kata seorang sahabat yang lain pula.

Rasulullah menggeleng-gelangkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum. Kemudian Baginda bersabda,

“Saudara-saudaraku adalah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku dan mereka mencintai aku melebihi anak dan orang tua mereka. Mereka itu adalah saudara-saudaraku dan mereka bersama denganku. Beruntunglah mereka yang melihatku dan beriman kepadaku dan beruntung juga mereka yang beriman kepadaku sedangkan mereka tidak pernah melihatku.”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَى الْمَقْبُرَةَ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ وَدِدْتُ أَنَّا قَدْ رَأَيْنَا إِخْوَانَنَا قَالُوا أَوَلَسْنَا إِخْوَانَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ

قَالَ أَنْتُمْ أَصْحَابِي وَإِخْوَانُنَا الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ

فَقَالُوا كَيْفَ تَعْرِفُ مَنْ لَمْ يَأْتِ بَعْدُ مِنْ أُمَّتِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ

فَقَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ رَجُلًا لَهُ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ بَيْنَ ظَهْرَيْ خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ أَلَا يَعْرِفُ خَيْلَهُ

قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ الْوُضُوءِ وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ أَلَا لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ أُنَادِيهِمْ أَلَا هَلُمَّ فَيُقَالُ إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendatangi pekuburan lalu bersabda: “Semoga keselamatan terlimpahkah atas kalian penghuni kuburan kaum mukminin, dan sesungguhnya insya Allah kami akan bertemu kalian, ” sungguh aku sangat gembira seandainya kita dapat melihat saudara-saudara kita.” ParaSahabat bertanya, ‘Tidakkah kami semua saudara-saudaramu wahai Rasulullah? Beliau menjawab dengan bersabda: “Kamu semua adalah sahabatku, sedangkan saudara-saudara kita ialah mereka yang belum berwujud.” Sahabat bertanya lagi, ‘Bagaimana kamu dapat mengenali mereka yang belum berwujud dari kalangan umatmu wahai Rasulullah? ‘ Beliau menjawab dengan bersabda: “Apa pendapat kalian, seandainya seorang lelaki mempunyai seekor kuda yang berbulu putih di dahi serta di kakinya, dan kuda itu berada di tengah-tengah sekelompok kuda yang hitam legam. Apakah dia akan mengenali kudanya itu? ‘ Para Sahabat menjawab, ‘Sudah tentu wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda lagi: ‘Maka mereka datang dalam keadaan muka dan kaki mereka putih bercahaya karena bekas wudlu. Aku mendahului mereka ke telaga. Ingatlah! Ada golongan lelaki yang dihalangi dari datang ke telagaku sebagaimana dihalaunya unta-unta sesat’. Aku memanggil mereka, ‘Kemarilah kamu semua’. Maka dikatakan, ‘Sesungguhnya mereka telah menukar ajaranmu selepas kamu wafat’. Maka aku bersabda: “Pergilah jauh-jauh dari sini.” (HR. Muslim No. 367).

 عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طُوبَى لِمَنْ رَآنِي وَآمَنَ بِي وَطُوبَى لِمَنْ آمَنَ بِي وَلَمْ يَرَنِي سَبْعَ مِرَارٍ

Dari Abu Umamah, Rasulullah Saw bersabda: Beruntunglah/Berbahagialah orang yang pernah melihatku kemudian beriman kepadaku, dan beruntunglah orang yang beriman kepadaku, padahal ia tidak pernah melihatku, hal ini diucapkan hingga tujuh kali.

Dari kisah yang telah dijelaskan diatas, tentunya kita sebagai umat beliau di akhir zaman juga sangatlah merindukan beliau. Tapi ketahuilah bahwa sesungguhnya kerinduan yang kita punya ini tidaklah sebanding dengan kerinduan dan kasih sayang beliau terdahap kita. Namun walaupun begitu kenyataannya, setidaknya menjalani segala sunnah beliau, mempeljari sejarah beliau dan mengadakan kumpulan majlis untuk membahas tentang beliau, termasuk adalah Mengadakan Maulid adalah hal yang harus kita lakukan. Semata dari apa yang kita lakukan tersebut adalah bentuk tanda cinta dan sayang kita juga kepada Rasulullah SAW.

Semoga kita semua termasuk umatnya yang selalu dirindukan beliau hingga hari akhir nanti. Dan semoga kita diberi syafaat olehnya.

Sumber : Tgk. Habibie M. Waly S.TH

Tinggalkan balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here