Bagaimanakah Membuktikan Adanya Kehidupan Setelah Mati (Akhirat) ?

0
297

alwaliyah.com | Pertanyaan : “Bagaimana anda membuktikan eksistensi akhirat, yaitu kehidupan setelah mati ?”

Jawaban:

Pertama : Iman/kepercayaan terhadap hari akhir tidak didasarkan oleh kepercayaan buta.

Banyak orang bertanya-tanya bagaimana orang dengan pendekatan ilmiah dan logika bisa berpegang pada kepercayaan ada hidup setelah mati. Orang menganggap bahwa mereka yang iman terhadap hari akhir adalah orang dengan kepercayaan yang buta. Kpercayaan tentang kehidupan akhirat didasarkan pada pendapat yang logis.

Kedua : Hari akhir adalah kepercayaan yang masuk akal

Ada ratusan ayat dalam Al-Qur’an yang menyebutkan fakta-fakta ilmiah (dalam buku saya: “Qur’an and Modern Science-Compatible or Incompatible?”). Banyak fakta-fakta yang disebutkan dalam Al-Qur’an telah dibuktikan dalam beberapa abad terakhir ini. Namun ilmu pengetahuan belum sampai ke level yang paling maju untuk mengkonfirmasi setiap pernyataan dalam Al-Qur’an.

Katakanlah 80% dari semua yang disebutkan dalam Al-Qur’an terbukti 100% kebenarannya. Sisa yang 20% belum dikategorikan secara ilmiah sebab belum adanya kemajuan dalam teknologi tersebut untuk membuktikan benar-tidaknya pernyataan dalam 20% kandungan Al-Quran tersebut. Dengan keterbatasan ilmu pengetahuan yang kita miliki, kita tidak bisa mengatakan bahwa satu persen atau satu ayat dalam Al-Quran dalam porsi yang 20% ini salah. Ketika 80% isi Al-Qur’an sudah dibuktikan 100% benar, dan 20% isi Al-Qur’an tersebut belum bisa dibuktikan, logika bisa mengatakan bahwa pasti yang 20% itupun benar. Eksistensi dari akhirat yang disebutkan dalam Al-Quran termasuk ke dalam porsi yang ke 20% yang logika saya mengatakan bahwa itu benar.

Ketiga : Konsep kedamaian dan nilai-nilai kemanusiaan tidak berguna tanpa konsep hari akhir

Apakah perampokan itu adalah tindakan yang baik atau jahat? Seorang yang normal akan mengatakan bahwa itu adalah perbuatan yang jahat. Bagaimana seorang yang tidak percaya pada hari akhir yakin bahwa tindak kriminal perampokan adalah kejahatan? Misalkan saja, saya menjadi seorang kriminal yang sangat kuat dan berpengaruh di dunia, serta adalah seorang yang pintar dan logis. Saya mengatakan bahwa perampokan itu baik karena membantu kita mendapatkan hidup yang mewah sehingga merampok itu baik untuk saya. Jika ada seseorang yang bisa memberikan satu argumen yang logis mengapa merampok itu suatu kejahatan atau hal yang buruk bagi saya, maka saya akan berhenti melakukannya. Orang biasanya menyampaikan argumen-argumen berikut:

  • Seseorang yang dirampok akan menghadapi kesulitan ataupun masalah. Beberapa orang akan mengatakan bahwa orang yang dirampok akan menghadapi kesulitankesulitan. Saya sangat setuju bahwa perampokan memang tidak baik bagi si korban. Tapi merampok itu baik untuk saya, kok. Jika saya merampok ribuan dolar, saya bisa menikmati makanan yang enak di restoran bintang.
  • Seseorang yang merampok mungkin akan dirampok juga (karma). Beberapa orang berpendapat bahwa suatu hari saya akan dirampok. Tapi tak akan ada satu orang pun yang akan merampok saya karena saya adalah seorang kriminal yang kuat dan berkuasa, dan saya memiliki banyak bodyguards. Saya bisa merampok siapapun tapi tak ada seorangpun yang bisa merampok saya. Merampok mungkin bisa menjadi pekerjaan yang beresiko untuk orang biasa, tapi tidak untuk orang yang berpengaruh seperti saya.
  • Polisi bisa menangkap, Beberapa orang berkata, jika kau merampok, maka kau akan ditangkap polisi. Polisi tidak akan dapat menangkap saya karena saya mungkin bisa membayar polisi. Saya sepakat jika ada yang mengatakan bahwa kalau orang kebanyakan yang merampok maka dia akan tertangkap dan itu adalah hal yang buruk bagi mereka, tapi saya adalah orang yang berbeda dari orang kebanyakan. Saya adalah kriminal yang berkuasa dan berpengaruh!
  • Merampok adalah metode memperoleh uang secara mudah. Beberapa orang mengatakan bahwa merampok itu mendapatkan uang dengan mudah dan saya sepakat. Itu lah salah satu alasan utama mengapa saya merampok. Jika ada orang yang memiliki pilihan lain untuk mendapatkan uang semudah itu, orang-orang yang logis pasti akan memilih cara yang paling mudah.
  • Merampok itu tidak manusiawi. Beberapa orang mengatakan bahwa merampok itu tidak manusiawi dan bahwa orang semestinya peduli terhadap orang lain. Saya akan melawan pendapat ini dengan bertanya, untuk siapa hukum kemanusiaan ini dan mengapa saya harus mengikutinya? Hukum semacam ini mungkin baik untuk orang-orang yang sentimental dan emosional tapi saya adalah orang yang logis dan saya melihat tidak adanya keuntungan dengan peduli pada orang lain.
  • Merampok adalah tindakan yang egois. Beberapa orang mengatakan bahwa merampok adalah hal yang egois. Benar, merampok adalah tindakan yang egois, tapi kenapa saya tidak boleh egois? Hal itu membuat saya bisa menikmati hidup.

Tidak ada alasan yang logis yang mengatakan bahwa merampok adalah tindakan yang tidak baik

Semua argumen yang berusaha membuktikan bahwa merampok adalah tindakan yang tidak baik telah gagal. Semua argumen tersebut mungkin memuaskan bagi orang kebanyakan tapi tidak bagi seorang kriminal yang berkuasa dan berpengaruh seperti saya. Tak satupun dari semua argumen tersebut yang bisa mempertahankan kekuatan alasan dan logika. Maka tak heran jika ada begitu banyak kriminal di dunia ini. Sebagaimana pemerkosaan, penipuan dan lain sebagainya bisa dibenarkan sebagai hal yang baik bagi orang seperti saya dan tidak ada satupun argumen yang logis yang bisa meyakinkan saya bahwa hal-hal tersebut adalah hal yang tidak baik.

Seorang Muslim bisa meyakinkan seorang kriminal yang berkuasa dan berpengaruh

Sekarang mari kita bertukar peran. Semisal Anda adalah seorang kriminal yang sangat berkuasa dan berpengaruh di dunia yang sanggup membayar polisi dan penegak hukum. Anda memiliki kekuatan militer untuk melindungi anda. Dan saya adalah seorang Muslim yang akan meyakinkan Anda bahwa merampok, memperkosa, menipu dan lain sebagainya, adalah tindakan yang jahat dan tidak baik. Meskipun saya menggunakan alasan-alasan di atas untuk membuktikan bahwa merampok itu adalah hal yang jahat dan buruk, si kriminal tersebut akan merespon dengan respon yang sama sebagaimana tertera di atas. Saya sepakat bahwa si kriminal itu berpikir logis dan semua argumennya benar sebab dia merupakan kriminal yang berkuasa dan berpengaruh.

Setiap manusia menginginkan keadilan

Setiap dan masing-masing manusia memiliki hasrat terhadap keadilan. Meskipun dia tidak menginginkan keadilan untuk orang lain, dia pasti menginginkan keadilan untuk dirinya sendiri. Beberapa orang dimabukkan oleh kekuasaan dan pengaruh dan membebankan kesakitan dan penderitaan kepada orang lain. Orang yang sama pasti akan berkeberatan jika ketidakadilan dilakukan terhadap mereka. Alasan mengapa orang menjadi tidak sensitif (peka) adalah karena mereka memuja kekuasaan dan pengaruh. Kekuasaan dan pengaruh tidak hanya membuat mereka melakukan ketidakadilan pada orang lain, tapi juga menjaga agar orang lain tidak bisa melakukan ketidakadilan pada dirinya.

Tuhan adalah yang paling Berkuasa dan Adil

Sebagai orang Muslim, saya akan meyakinkan si kriminal mengenai eksistensi Tuhan yang maha Kuasa (merujuk ke jawaban yang membuktikan eksistensi Tuhan). Tuhan lebih berkuasa dan mulia dibandingkan dirimu dan juga Tuhan maha Adil. Al-Quran yang mulia menyampaikan:

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebaikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar” [Al Qur’an 4:40]

Mengapa Tuhan tidak menghukumku?

Kriminal, sebagai orang yang logis dan berilmu, mempercayai keberadaan Tuhan setelah dihadirkan bukti-bukti ilmiah dari Al Qur’an. Dia mungkin bertanya mengapa Tuhan yang maha Kuasa dan Adil tidak menghukumnya.

Orang yang melakukan kecurangan/ketidakadilan harus dihukum

Setiap orang yang menderita/teraniaya atas ketidakadilan baik akibat status sosial ataupun keuangan, pada umumnya tentu menginginkan pelaku kejahatan tersebut agar diberikan hukuman. Setiap orang normal menginginkan para penjahat tersebut memperoleh ganjaran yang setimpal. Meskipun sebagian besar kejahatan diberikan hukuman, banyak juga yang terbebas dari belenggu hukuman. Mereka justru merasakan kesenangan, kemewahan hidup dan bahkan menikmati kebebasan. Bila ketidakadilan dilakukan kepada orang yang berkuasa dan memiliki pengaruh oleh orang yang berkuasa diatasnya, demikian tentu juga menuntut keadilan agar pelaku segera dihukum sesuai perbuatannya.

Kehidupan ini adalah ujian untuk mencapai akhirat.

Tentang hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa:

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk ayat 2)

Ayat ini menjelaskan bahwa selama di dunia manusia akan diuji dan dinilai amal kebaikannya kemudian akan diperhitungkan pada hari perhitungan kelak.

Pengadilan terakhir pada Hari Kiamat

Dalam ayat suci Al-Qur’an, Surat Ali Imran ayat 185 menyebutkan tentang hal ini, bahwa:

“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang Siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”

Pengadilan terakhir akan diputuskan pada Hari Kiamat nanti. Setelah seseorang meninggal, dia akan dibangkitkan pada hari tersebut bersama seluruh umat manusia. Mungkin saja seseorang menerima sebagian ganjaran ketika ia masih hidup di dunia. Namun pahala dan hukuman akan dia terima hanya di Akhirat nanti. Allah SWT mungkin tidak langsung menghukum para pelaku kejahatan di dunia ini tapi kelak dia pasti akan diperhitungkan pada Hari Perhitungan (Yaumul Hisab) di hari kiamat dan akan dihukum di akhirat kelak.

Rosulullah SAW juga bersabda, “Sesungguhnya orang kafir itu apabila ia melakukan kebaikan maka ia dibalas dengan diberi makanan di dunia. Adapun orang Mukmin maka Allah swt menyimpan kebaikan-kebaikannya untuk di akhiratnya dan juga diberi rizki di dunia atas ketaatannya”

Dalam satu riwayat, “Sesungguhnya Allah tidak menzhalimi kebaikan seorang mukmin, dengan kebaikan itu ia diberi rizki di dunia dan diberi balasan di akhirat. Adapun orang kafir maka dengan kebaikan-kebaikan amal yang ia kerjakan karena Allah ia diberi rizki didunia, sehingga ketika ia memasuki akhirat ia tidak lagi memiliki satu kebaikan yang harus dibalasnya karenanya” (HR Muslim)

Jadi wajar kalau banyak orang kafir kaya, karena Allah membalas kebaikan mereka di dunia saja, di akhirat kekal di nerakan (sumber: Islamic Motivation).

Bentuk Hukuman seperti apa yang dapat diberikan kepada Hitler?

Hitler telah membakar 6 juta kaum Yahudi selama masa kekuasaannya. Meskipun pihak berwajib telah menangkapnya, Sanksi/Hukuman apa yang dapat diberikan kepada Hitler bila dilihat dari perspektif hukum alam untuk menegakkan keadilan?

Yang paling dapat dilakukan adalah memasukkan Hitler ke ruang gas beracun (gas chamber), namun hal ini hanya pantas untuk membalas pembunuhan satu orang yahudi. Bagaimana dengan pembalasan atas pembantaian 5.999.999 orang yahudi lainnya?

Maka, Allah dapat membakar Hitler sebanyak lebih dari enam juta kali di Neraka

Seperti Firman Allah SWT dalam Kitab Suci Al Qur’an yang berbunyi:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa ayat 56)

Jadi, jika Allah berkehendak Dia dapat membakar Hitler sebanyak 6 (enam) juta kali pada hari kiamat di dalam Neraka kelak. Untuk itu kejahatan yang dilakukan siapapun akan terbalaskan kelak pada hari Kiamat.

Konsep dalam nilai-nilai kemanusiaan tidak terlepas dari Kehidupan Akhirat.

Sudah jelas bahwa tanpa meyakinkan seseorang tentang akhirat, yakni kehidupan setelah mati, konsep dalam nilai-nilai kemanusiaan dan tindakan kebaikan atau kejahatan yang dilakukan akan mustahil untuk dibuktikan bagi orang yang telah melakukan kejahatan apalagi bila dia memiliki pengaruh dan kekuasaan.

ANSWER TO NON-MUSLIMS COMMON QUESTIONS ABOUT ISLAM
Dr. Zakir Abdul Karim Naik (30-34)

Tinggalkan balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here