Metode “Muafaqah Pada Haq” Salah Satu Cara Mengenal Allah, Bagaimana Penjelasannya ?

0
308
alwaliyah | Apa itu muafaqah pada haq ? Arti Muwafaqah pada Haq adalah setiap apa yang tergambarkan oleh akal harus memiliki korelasi pasti pada unsur kebenaran. Setiap apapun yang berasal dari buah fikiran akal maka keadaan hukumnya haruslah sesuai dengan fakta yang terjadi.  Jika tidak, maka status hukumnya tidak memiliki nilai otentik. Apalagi yang difikirkannya itu berkenaan tentang hal-hal tauhid kepada Allah SWT. Untuk memahami penjelasan ini kita berikan contoh seperti api, api saat ia hidup maka akal akan menjawab bahwa api yang menyala tersebut itu pastilah ada seseorang yang menghidupkannya, lalu saat beberapa lama kemudian api tersebu tetap masih hidup maka akal akan menjawab bahwa pastilah ada orang yang terus menghidupkan baranya, sesaat kemudian saat melihat api itu kembali ia telah mati dan pastinya ada seseorang yang telah mematikan apinya. Inilah contoh muwafaqah pada haq, yaitu akal dan hukum kejadian sesuai pada realita alam yang terjadi. saat akal memikirkan sesuatu maka akal juga harus menerima hukum alam yang pasti.

Seperti hukum realita lain, jika sesuatu hal itu jatuh, maka pastilah ia akan menurun, jika ia naik maka sudah barang tentu ia akan meninggi, jika dingin maka pastinya ada angin, jika panas maka ada api, dan seterusnya. Maka contoh ini jugalah termasuk pada hukum Muwafaqah pada Haq. Sama keadaanya pada bukti Allah SWT, saat kita mengenalnya kita harus memahami hukum realitanya, seperti segala bumi ini ada maka pastilah adanya sang pencipta. Bagaimana mungkin adanya rumah tanpa ada yang membangunnya, maka demikian jugalah alam ini bahwa pastilah ada Allah SWT.

Untuk lebih mudah memahami apa yang dimaksudkan diatas mari kita simak sedikit kisah pencarian Nabi Ibrahim untuk menemukan Tuhannya.

Suatu hari Nabi Ibrahim berjalan-jalan disebuah pasar dengan menjual-jualkan patung punya ayah beliau, bernama Azar. Sambil berjualan, beliau selalu menghina patung-patung tersebut dengan menaikkan patung-patung itu sambil menawarkannya kepada orang-orang di pasar. Masyarakat yang melihat kejadian ini merasa risih, Ibrahim telah menghina tuhan mereka. Sehingga peristiwa ini pun dilaporkan kepada Azar untuk diberi teguran keras kepada anaknya itu. Saat Ibrahim pulang maka azar menanyakan apa yang baru saja disampaikan oleh masyarakat untuknya, sambil memarahi Ibrahim ia pun menasehatinya, namun saat itu Nabi Ibrahim menyangkal 
—————————————
 Menurut sebahagian mufassirin, Azar bukanlah ayah beliau tapi paman. Pendapat ini didukung oleh Abuya Muhibbuddin Waly. Disebutkan kata Ayah dalam Al-Qur‟an adalah bentuk akrabnya beliau dari sejak kecil sehingga di panggilah ayah. Karena Azar telah mendidik Nabi Ibrahim sejak kecil. Terkait keberadaan ayah kandung Nabi Ibrahim, sebahagian ulama tafsir mengatakan telah meninggal sebelum Nabi Ibrahim dilahirkan.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً ۖ إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”. (Al-An’am : 74)

Setelah dialog keduanya terjadi, maka azarpun memisahkan diri dengan Nabi Ibrahim. Maka mulai saat itulah Nabi Ibrahim berkelana untuk mencari jawaban pasti atas kejanggalan-kejanggalan yang selama ini ia fikirkan. Beliau beragnggapan pasti adalah Tuhan yang sebenarnya, mustahil tuhan seperti yang ada di pasar- pasar dan rumah-rumah masyarakat, bisa dicuci, di bawa, mudah hancur dan disembah. Saat kebimbangan yang mendalam tentang tuhan, maka saat itupun beliau merenung dalam suatu malam sambil melihat indahnya malam dan bersinarnya bintang-bintang.  

 Namun tiba-tiba tersentaklah dalam benak beliau, bahwa bintang yang ia lihat sangatlah indah dan banyak bintang ini pun lebih tinggi tempatnya bukan seperti tuhan-tuhan yang ada dipasar, maka lebih jauh lagi tebentuklah keyakinan bahwa bintang inilah yang pas menjadi tuhannya. 

وَكَذَٰلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ(75) فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ(76)
Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.  76. Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”. (Al-An’am : 75-76)
Saat setelah Nabi Ibrahim melihat bintang lalu beliau melihat siang di hari esoknya namun tak disangka bintang indah semalam yang beliau lihat menghilang dan lenyap, maka beliau berfikir bahwa Tuhan seungguhnya tidaklah lenyap dan menghilang, ini mustahil, ini bukanlah tuhan.

Keesokan malamnya beliaupun duduk kembali sembari menunggu bintang-bintang berkelip, yang beliau lihat malam kemarin, namun tak disangka ada satu benda besar yang lebih besar dari bintang, sinarnyapun lebih menyala dari bintang, maka beliaupun beraggapan bahwa bulan lebih unggul dari pada yang bintang, saat itupun beliau berucap “Inilah tuhanku”, ia yang lebih indah dan menawan dari pada bintang-bintang : 
فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ
Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat”. (Al-An’am : 77).

Saat bulan melenyap lalu kemudian menghilang, beliaupun merasa heran, tidaklah mungkin tuhan bulan menghilang. Maka bulan bukanlah tuhan pastilah ada tuhan yang lebih besar daripada ini. 

Saat pagi hari datang, maka munculah Matahari. Nabi Ibrahim pun memperhatikan benda besar itu dengan rasa takjub, sinarnya yang lebih kuat daripada bulan dan bintang membuat Ibrahim merasa lebih yakin lantas beliaupun mengakui bahwa benda besar inilah yang tepat  menjadi tuhannya. Karena benda yang dilihatnya lebih besar, bersinar dan tidak dapat dipandang lebih lama karena sinar yang dipancarkannya akhirnya beliaupun menganggap bahwa benda tersebut adalah tuhannya.

فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَا أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. (Al-An’am : 78)


Matahari juga pernah menjadi akuan Nabi Ibrahim sebagai tuhannya, beliau memutuskan bahwa Matahari adalah usaha pencarianya yang terakhir, karena apa yang beliau lihat sebelumnya tidaklah sebesar benda ini dan sinarnya pun tidak sekuat dnegan benda silau ini. Namun ketika malam tiba setelah beliau melihat malam maka matahari pun tidak kunjung hadir dan ia lenyap juga tenggelam seperti bulan dan bintang. lantas beliaupun kembali beranggapan bahwa matahari sama saja seperti bulan dan bintang, ia jugalah lenyap dan menghilang. 

Beliau beranggapan bahwa ketiga benda yang beliau lihat diatas bukanlah tuhan, beliau beralasan bahwa tuhan tidak mungkin lenyap, tenggelam, terbenam ataupun menghilang.

Hari berganti malam dan malampun berganti hari. Benda-benda yang Nabi Ibrahim lihat itu terus saja menghilang kemudian hadir lalu setelah ia hadir kemudian lenyap kembali, saat itulah beliau berfikir bahwa semua yang dilihat selama ini bukanlah tuhan,Tuhan yang sebenarnya tidaklah mungkin lenyap dan kembali hadir bahkan sebaliknya. Pasti ke 3 benda itu ada yang menciptakan. Tuhan sesungguhnya pastilah hidup selama-lamanya, tidak tenggelam atau menghilang, tidak mungkin matahari itu tuhan, bulan dan bintang juga deikian, benda-benda tersebut lenyap dan hadir kembali mustahil tidak bergerak dengan sendirinya, pastilah ada yang mengerakkan. Saat kebenaran akal Ibrahim menerima realita (hukum muwafaqah pada haq) maka saat itulah beliau berdoa kepada sang Maha Pencipta yang sesungguhnya untuk meminta petunjuk akan atas apa yang menjaggal dalam dirinya. Beliau pun berucap : 

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (Al-An’am : 79)
Inilah kisah perjuangan Nabi Ibrahim dalam mencari Akidah Tauhid yang sesungguhnya, setelah beliau berkelana dengan alam akal, melihat segala ciptaan-ciptaan Allah akhirnya beliau menemukan satu jawaban bahwa Tuhan akan terus ada Dzat-Nya tidak menghilang dan tidak juga terbenam, itulah Allah SWT.  

Maksud cerita Nabi Ibrahim diatas adalah contoh bahwa segala fikiran dan jalan untuk mencari Allah haruslah muwafaqah pada haq, yaitu cocok dengan kejadian. Seperti Nabi Ibrahim saat melihat bulan, bintang dan matahari yang pada awalnya beliau mengaggap itu tuhannya namun karena tuhan tidak tenggelam maka tidaklah cocok dengan muwafaqah atau hukum alam. Tidak mungkin tuhan seperti itu, Tuhan pastilah selalu ada Dzatnya, Ia pastilah Esa dan menciptakan segala sesautu baik yang ada pada bumi maupun alam semesta. Yang pastinya adalah Tuhan tidaklah berganti-gant, terkadang hadir terkadang lenyap, sepertimana kisah Nabi Ibarahim diatas. Maka disinilah arti dari Muawafaqah pada Haq yaitu membandingkan alam fikiran dengan kecocokan hukum adat atau kebiasaan yang terjadi. Jika terana panas maka pasti ada api, jika merasa dingin maka pasti ada angin, jika terhatuh maka pastilah luka, jika melempar benda keatas langit maka pastilah jatuh kebawa, inilah hukum alam namanya. Maka Tuhan tidaklah demikian.


Mengenal Allah SWT harus memiliki syarat yang kedua, yaitu Muawafaqah pada Haq. Mensesuaikan segala apa yang difikirkan dengan kejadian hukum alam. Untuk itu bagi siapapun yang tidak menggunakan cara ini dalam hal mengenal Allah niscaya imannya tidaklah diterima dan ia akan sesat dalam perjalanannya.
Sumber :
“Risalah Tauhid Al-Waliyah”
Tgk.Habibi M.Waly. S,TH

Tinggalkan balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here