Kenalilah 5 Ajaran Dasar Tasawuf Ini Sebelum Anda Bertasawuf

0
641
Alwaliyah | Dalam kehidupan kita sehari-hari memiliki hati yang bersih dan tidak terkena dari kesalahan bathiniyah kita kepada Allah adalah merupakan suatu kejayaan tersendiri bagi kita sendiri. Bagi mereka para ahli tasawuf dalam meandang jalan ini sudah menjadi metode pokok hidup dan kehidupan mereka. Karena para ahli tasawuf memanglah demikian adanya, karena mereka beranggapan hidup hanya sekali jagi dipergunakan secara baik. Oleh karenanya para ahli tasauf sering-sering disebut sebagai ahli ibadah, hal ini karena mereka tidak pernah lepas dari tugas ibadah dan ibadah saja kepada Allah.
Namun bagaimanakah mereka yang tidak memiliki hati bersih dalam hidupnya ?, sudah tentu jawabannya adalah mereka tidak akan pernah mengalami kejayaan dan keamanan hidup. Mereka selalu dalam stres, gundah, tidak nyaman, dan selalau dihantui oleh yang namanya kebingungan. Alhasil mereka menutup usia mereka dalam suul khatimah (kematian yang tidak baik).
Oleh karena itu, bathin atau hati butulah makan, makanan hati adalah ilmu dan ilmu yang paling sesuai dengan keadaan hati ini adalah Tasawuf.
Pertanyaannya adalah bagaimanakah memahami jalan tasauf ini ?,
Jawabannya sangat banyak sekali, namun jika memang berkiinginan untuk meraih cahaya hati melalui tasauf tersebut, tidak salahnya jika kita mengenal 5 dasar pokok ajaran tasauf yang tertulis dibawah ini. Adapun 5 ajaran pokok tasauf tersebut adalah sebagai berikut :

إياك أن تنتقد على السادة الصوفية : وينبغي للإنسان حيثُ أمكنه عدم الانتقاد على السادة الصوفية نفعنا الله بمعارفهم، وأفاض علينا بواسطة مَحبتَّنا لهم ما أفاض على خواصِّهم، ونظمنا في سلك أتباعهم، ومَنَّ علين بسوابغ عوارفهم، أنْ يُسَلِّم لهم أحوالهم ما وجد لهم محملاً صحيحاً يُخْرِجهم عن ارتكاب المحرم، وقد شاهدنا من بالغ في الانتقاد عليهم، مع نوع تصعب فابتلاه الله بالانحطاط عن مرتبته وأزال عنه عوائد لطفه وأسرار حضرته، ثم أذاقه الهوان والذلِّة وردَّه إلى أسفل سافلين وابتلاه بكل علَّة ومحنة، فنعوذ بك اللهم من هذه القواصم المُرْهِقات والبواتر المهلكات، ونسألك أن تنظمنا في سلكهم القوي المتين، وأن تَمنَّ علينا بما مَننتَ عليهم حتى نكون من العارفين والأئمة المجتهدين إنك على كل شيء قدير وبالإجابة جدير.

Berhati hatilah kamu dari menentang para ulama sufi. Dan sebaiknya bagi manusia sebisa mungkin untuk tidak menentang para ulama sufi, semoga Allah member manfaat kepada kita dgn ma’rifat. Ma’rifat mereka dan melimpahkan apa yg Allah limpahkan kepada orang-orang khususnya dgn perantara kecintaan kami pada mereka, menetapkan kita pada jalan pengikut mereka dan mencurahkan kita curahan curahan ilmu ma’rifat mereka.

Hendaknya manusia menyerahkan apa yang mereka lihat dari keadaan para ulama shufi dengan kemungkinan kemungkinan baik yang dapat mengeluarkan mereka dari melakukan perbuatan haram.
Kami sungguh telah menyaksikan orang yang sangat menentang ulama shufi, mereka para penentang itu mendapatkan ujian dari Allah dengan pencabutan derajatnya, dan Allah menghilangkan curahan kelembutanNya dan rahasia rahasia kehadiranNya. Kemudian Allah menimpakan para penentang itu dengan kehinaan dan kerendahan dan mengembalikan mereka pada derajat terendah. Allah telah menguji mereka dengan semua penyakit dan cobaan.
Maka kami berlindung kepadaMu ya Allah dari hantaman hantaman yang kami tidak sanggup menahannya dan dari tuduhan tuduhan yang membinasakan. Dan kami memohon agar Engkau menetapi kami jalan mereka yang kuat, dan Engkau anugerahkan kami apa yang telah Engkau anugerahkan pada mereka sehingga kami menjadi orang yang mengenal Allah dan imam yang mujtahid, sesungguhnya Engkau maha Mampu atas segala sesuatu dan maha layak untuk mengabulkan permohonan.
(Al-Fatawa Al-Haditsiyyah : 113, karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami)

أصول طريق التصوف خمسة: تقوى الله في السر والعلانية. اتباع السنة في الأقوال والأفعال. الإِعراض عن الخلق في الإِقبال والإِدبار. الرضى عن الله في القليل والكثير.الرجوع إِلى الله في السراء والضراء.

Pokok pokok metode ajaran tasawwuf ada lima : Taqwa kepada Allah di dalam sepi maupun ramai, mengikuti sunnah di dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluk di dalam penghadapan maupun saat mundur, ridlo kepada Allah dari pemberianNya baik sedikit ataupun banyak dan selalu kembali pada Allah saat suka maupun duka.
(Risalah Al-Maqoshid fit Tauhid wal Ibadah wa Ushulut Tasawwuf halaman : 20, Imam Nawawi)

Tinggalkan balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here