Kenalilah, Berikut Tanda Tertutupnya Hati (Abuya Muhibbudin Waly)

0
299
Al-Waliyah | Mengenai masalah ini, Maulana Al-Imam Ibnu Athaillah Askandary telah merumuskan didalam kalam hikmah beliau yang ke 5 sebagai berikut :
اِجْتِهَدُ كَ فِيْهَا ضَمِنَ لَكَ, وَتَقْصِيرُكَ فِيْهَا طُلِبَ مِنْكَ,دَلِيلُ عَلَى انْظِمَا سِ 
الْبَصِيْرَةِ مِنْكَ.
“ Kegiatan anda pada menghasilkan sesuatu yang telah terjamin untuk anda, disamping itu anda meninggalkan sesuatu dimana anda telah dituntut (diperintahkan pada mengerjakannya) adalah menunjukkan atas (telah) butanya (tertutup) matahati anda.”
Sebelum kita menerangkan keterangan yang dimaksud dalam Kalam Hikmah ini, maka lebih dulu hendaknya kita ketahui beberapa perkataan yang tertera didalamnya.
[a] Perkataan “Ijtihad” maksud disini ialah bersungu-sungguh atau giat tanpa kenal letih dan lelah, dimana seluruh kekuatan kita diarahkan untuk memperoleh sesuatu yang tertuju. Jika tidak dimaksudkan dengan Ijtihad disini seperti yang umum dipakai dalam ilmu Hukum Islam (Al-Fiqhul Islami).
[b] Perkataan “Taqhsir” maksudnya ialah meninggalkan sesuatu yang dimaksud disebabkan kelalaian dan kurang perhatian, atau tidak mengerjakan sesuatu dengan sempurna sesuai seperti apa yang dikehendaki tentangnya, tegasnya mengerjakan sesuatu setengah-setengah tanpa perhatian yang bulat.
Perkataan “Al-Bashiirah” dan bagaimana perbedaannya dengan perkataan “Al-Bashar” Syaikhul Islam Syeikh Abdullah Syarqawi berkata tentang devinisinya sebagai berikut :
 
عَيْنٌ فِي الْقَلْبِ تُدْرِكُ الاُ مُوْرَ الْمَعْنَوِيَّةُ, كَمَا اَنَّ الْبَصَرَ يُدْرِكُ الاُمُوْرَ الْمَحْسُوْسَةُ.
Al-Bashiira” (matahati) ialah : sesuatu yang disebut dengan mata didalam hati yang dapat menangkap segala sesuatu yang sifatnya maknawiyah (yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera yang lima atau sebagainya), sebagaimana bahwasanya Al-Bashar mata jasmaniah yang dapat mengkap (dengan penglihatan) segala sesuatu yang bersifat Hissy (Ditangkap Oleh Panca Indera).
Dari keterangan ini dapat kita pahami bahwa apabila mata kita dapat melihat segala sesuatu yang mungkin dilihat, maka mata hati kita melihat segala sesuatu yang tidak mungkin dilihat oleh penglihatan mata kepala sendiri. Ininlah perbedaan antara Al-Bashiira dan Al-Bashar.
Kalam Hikmah ini memberikan pengertian kepada kita agar kita jangan mementingkan diri dalam mencari rezeki yang telah dijamin oleh Allah s.w.t
Kita boleh berusaha, bahkan seterusnya berusaha mencari rezeki yang halal, tetapi kita dianjurkan agar jangan sampai lupa diri, sehingga seluruh perhatian kita, kita tumpahkan untuk hidup duniawi ini saja. Karena apabila seluruh kekuatan kita, perhatian dan perasaan kita semuanya untuk ini, maka pasti akan mengakibatkan kurang sungguhan kita dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban kita terhadap ajaran agama.
Betapa tidak. Allah s.w.t dengan Karunia-Nya dan Kebaikan-Nya telah menjamin rezeki hamba-hambaNya. Karena itu Allah s.w.t telah berfirman dalam Al-Qur’an :
 
وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-‘Ankabut : 60)
Allah Berfirman Lagi :
 
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
Dan Suruhlah Pengikutmu bersembahyang dan tetap mengerjakan. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, (hanya) Kami yang memberi kamu rezeki dan akibat (yang baik) adalah untuk (orang yang) memelihara diri dari kejahatan.” (Thaha : 132)
Dua ayat ini memberikan pengertian kepada kita bahwa dalam masalah rejeki, kita tidak boleh susah. Sebab sudah ada dalam jaminan Allah s.w.t , asal saja kita berusaha sesuai dengan ketentuan-ketentuan dari tingkatan-tingkatan keadaan kita, masing-masing seperti telah diterangkan dalam Kalam Hikmah sebelumnya. Apabila masalah rejeki sudah terang persoalanya, maka imbalannya dari pada itu ialah Allah s.w.t menuntut kita dalam melaksanakan amal ibadah berupa kewajiban-kewajiban kita terhadap Allah s.w.t dan mengerjakan amal-amal kebajikan lain-lain seperti yang telah digariskan Oleh ajaran-ajaran Agama kita. Dengan amal ibdah kita dapat sampai kepada kebahagian diakhirat yang kekal-baqa’. Dan dengan amal ibadah pula kita dapat dekati kepada Allah s.w.t. Berfirman Allah s.w.t dalam Al-Qur’an :
 
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Tidak Aku ciptakan jin dan manusia selain supaya mereka itu berta’abbud (mengerjakan amal ibadah) kepadaku.” (Adz-Dzaariyat : 56)
Kemudia dalam surat yang sama Allah s.w.t melanjutkan Firman-Nya:
 
مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ(57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan aku tidak menghendaki supaya mereka member Aku makan(57). Sesungguhnya Allah, Dia adalah Maha Pemberi Rezeki, Yang mempunyai Kekuatan yang teguh (luar biasa)(58).” (Adz-Dzaariyat : 57-58).
Dari ayat-ayat ini jelaslah bagi kita, bahwa Allah tidak meminta kepada kita sesuatu seperti yang kita perlukan didalam hidup dan kehidupan kita. Tetapi Allah menjadikan kita manusia pada khususnya dengan hikmah supaya kita berterimakasih kepada-Nya dengan Jalan beribadah, tegasnya mematuhi segala perintah-perintahNya dan menjauhi segala larangan-larangNya.
Perlu kita ketahui orang-orang yang tenggelam dalam berusaha pada apa yang telah dijamin oleh Allah, tanda-tandanya ialah :
[a]. Atta’assufu ‘Alal Ghaa’ibi.
Yakni timbul penyesalan, apabila sesuatu yang telah diberikan Oleh Tuhan dicabut kembali olehNya, apakah dengan jalan hilang dicuri orang, dibinasakan dengan datangnya kebanjiran, atau musnah ditelan api dan lain-lain sebagainya.
[b]. Faqdut-Taqwaa Fit-Tahshiili.
Yakni tidak ada Taqwa dalam hati dan tindak tanduk pada menghasilkan rezeki yang dicari. Pendeknya asal uang masuk, haram dan halal ditelan semua.
[c]. Alghaflatu ‘Anil Huquuqil Muta’akkidati Fis-sababi
Yakni lalai dari kewajiban yang menjadi hak kita yang tak dapat tidak pada sebabnya ada rezeki itu. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa saking asyiknya ia dengan perusahaannya atau pekerjaannya sehingga lupa sembahyang dan puasa dan lain-lain sebagainya.
Kemudian Tanda-tanda bagi hamba-hamba Allah yang tidak pusing dan tidak tenggelam dalam pekerjaannya, tetapi biasa saja, sehingga meskipun ia berusaha namun ada batas-batasnya; maka tanda-tanda ialah 3 pula :
[a]. Ar-Ridhaa Bil-Waaqi’i
Yakni ridha pada apa yang terjadi. Apabila ia mendapat untung besar, maka ia bersyukur kepada Allah s.w.t dan apabila ia mendapat cubaan dari Tuhan sehingga ia jatuh rugi misalnya, maka ia bersabar dan menyerahkan dirinya kepada Allah s.w.t
[b]. At-Taqwaa Fith-Thalabi
Yakni selalu taqwa kepada Allah dalam usaha mencari rezeki yang halal.
[c]. Hifzhul Adaabi Fil-Asbaabi
Yakni selalu memelihara cara-cara yang baik, tindak-tanduk yang bagus, tidak memfitnah orang, tidak sentiment dan sakit hati, tidak aniaya kepada orang lain (dan lain sebagainya) di dalam pekerjaannya dalam berusaha demi mencari rezeki yang halal. Maka dengan ini semua, teranglah bagi kita siapakah orang-orangnya yang dalam usaha-usahanya dalam menghasilkan rezeki, ia diridhai oleh Allah atau kebalikannya.
Kesimpulan :
Dalam Kalam Hikmah diatas dalam pengertiannya, menyuruh supaya kita tetap memelihara hati kita, agar selalu mendapat limpahan-limpahan petunjuk dan tuntutan Allah dalam seluruh persoalan hidup yang kita hadapi. Karena itu meskipun kita didalam hidup ini berusaha mengatasi hidup dan kehidupan dengan mencapai rezeki yang halal, maka janganlah kita lupa pada Allah dengan persoalan yang kita hadapi dengan jalan mematuhi ajaran-ajaran AgamaNya.
Dan apabila kebalikannya, maka ini adalah dalil, bahwa hati kita telah buta dan tertutup, sehingga kebenaran dan keadilan dalam arti yang luas, gelap dan tidak kelihatan. Akhirnya kebahagian yang kekal abadi yang menjadi cita-cita para HambaNya yang saleh akan sirna dan lenyap sama sekali. Na’udzubillah Min Dzalik.

 

Sumber :“ Al-Hikam,Hakikat Hikmah Tauhid & Tasawuf”
Abuya Prof. Dr. Tgk Chiek, K.H Muhibbuddin Muhammad Waly Al-Khalidy

 

Tinggalkan balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here