Bagaimanakah Seharusnya Kita Memandang Alam Ini ?

0
242

Al-Waliyah.com | Kita melihat secara lahiriah adanya alam, yakni mata kita dan pancaindera kita mendapatkan adanya alam. Mata kita melihat, kuping kita mendengar, tangan kita menyentuh dan meraba. Lidah kita merasakan bermacam rasa, hidung kita dapat mencium segala macam bau-bauan. Apakah tidak menunjukkan adanya sesuatu itu? Dan apakah wujudnya itu lahir dan bathin, atau bagaimana menurut kacamata hakikat Tauhid? Untuk itulah Imam Ibnu Athaillah Askandary memberikan jawabannya dalam Kalam Hikmahnya yang ke-141 sebagai berikut:

اَلْأَكْوَانُ ثَابِتَةٌ بِإِثْبَاتِهِ ، وَمَمْحُوَّةٌ بِأَحَدِيَّةِ ذَاتِهِ

“Segala alam tetap ia pada ketetapan Allah dan ia dapat terhapus dengan kemaha-Esaan Dzat-Nya.”
Kalam Hikmah ini meskipun sangat singkat, tetapi mengandung arti yang dalam sekali. Penjelasannya sebagai berikut:
Pertama
Segala alam ini apa saja, seperti gambaran di atas, pada hakikatnya tidak ada. Adanya alam oleh karena Allah Ta‘ala telah mengadakannya, telah menciptakannya. Kalau bukan karena itu maka alam semuanya tidak ada wujudnya. Maka adanya alam adalah suatu hal yang mendatang, yang dalam istilah logika disebut dengan “Amrun ‘Aaridhiy” ( أمر عارضي )
 
Apabila kita lihat kepada hakikat alam itu adanya karena di-adakan, tidak boleh adanya dengan berkendiri, dan tidak sunyi alam itu daripada kekurangan-kekurangannya. Tidak sunyi alam itu dari kemiskinan dan kefakirannya, dan antara satu alam dengan alam yang lain hubung menghubungi, dan sebagainya dan sebagainya. Maka melihat kepada keadaan ini adalah wujudnya alam bukanlah wujud hakiki. Wujudnya pada hakikatnya tidak ada, karena wujudnya tersapu dengan kemaha-esaan Dzatnya Allah s.w.t.
 
Kedua
Bagaimanakah tersapu wujud alam ini dengan kemaha-esaan Dzatnya Allah? Masalahnya begini: Yakni sebagaimana dimaklumi dalam ilmu Tauhid, bahwasanya Allah s.w.t. bersifat dengan wahda-niyah pada Dzat dan wahdaniyah pada sifat. Dan wahdaniyah Allah s.w.t. adalah wahdaniyah pada wujud yang hakiki, yakni wujud yang tidak ada permulaan dan wujud yang tidak ada kesudahan. Dzat yang bersifat dengan sifat wahdaniyah dalam wujud hakiki mempunyai qudrat yang Maha Agung. Dan dengan qudratNya itu Allah Ta‘ala menciptakan segala-galanya, asal saja segala sesuatu itu bersifat dengan mumkin, bukan mustahil dan bukan wajib. Menciptakan dalam arti mengadakan, dari tidak ada kepada ada, atau dari ada kepada tidak ada, atau dari ada serta mengekalkan adanya, atau dari tidak ada serta mengekalkan ketiadaannya.
 
Dzat Allah dalam gambaran sedemikian rupa, apabila dilihat bahwa Dia menjadikan alam ini dan menciptakan alam ini, yakni alam ini adanya diciptakan olehNya, pada waktu kita melihat DzatNya bersifat dengan Al-Wahidiyah. Apabila dilihat Dzat Allah s.w.t. yang Maha Sempurna dengan segala sifat-sifatNya yang Maha Agung dan Maha Sempurna pula. Dilihat kepada itu saja dan ditinjau kepada pengertian itu saja yang dilihat kepada hubungannya dengan alam mayapada ini, maka Dzat Allah bersifat dengan Al-Ahadiyah.
 
Ketiga
Apabila kita bedakan Al-Ahadiyah dengan Al-Wahidiyahdalam perbedaan secara misal dapat kita contohkan, Al-Ahadiyah itu adalah laksana laut tanpa gelombang, sedang Al-Wahidiyah adalah laksana laut serta gelombang. Allah s.w.t. laksana laut dan alam mayapada ini laksana gelombang. Gelombang tidak ada apabila tidak ada laut dan gelombang itu ada karena digerakkan oleh laut. Tetapigelombang bukanlah hakikat laut. Laut adalah laut dan gelombang adalah gelombang. Janganlah gelombang dikatakan laut dan janganlah laut pula dikatakan gelombang. Kita dapat melihat laut semata-mata, tapi jangan lihat gelombangnya. Tetapi tidak mungkin memisahkan antara gelombang dari laut.
 
Maka demikianlah antara Allah s.w.t. dengan alam ini semua. Allah Ta‘ala adalah Maha besar, Allah Ta‘ala adalah Maha Sempurna dengan segala sifat-sifatNya yang Maha Agung dan Sempurna. Meskipun alam semuanya ini tidak ada, atau meskipun alam mayapada ini membela-kangi dan tidak mengakui atas ketuhananNya, Allah Ta‘ala tidak kecil dan Allah Ta‘ala tidak kurang. Tetapi dia tetap atas kebesaranNya dan atas keagunganNya. Tidak besar Allah Ta‘ala karena alam ini dan tidak agung Allah Ta‘ala karena alam ini tunduk dan patuh kepada-Nya. Dia tetap Maha Besar dan Maha Agung. Apakah alam ini tunduk kepada-Nya atau tidak. Melihat itulah maka Dzat Allah Ta‘ala bersifat dengan Al-Ahadiyah. Laksana kita melihat laut, laut tetap laut, apakah ada ge-lombang atau tidak. Bukan karena gelombang maka laut dikatakan laut. Tetapi adanya gelombang atau tidaknya adalah sama saja. Dan melihat kepada alam ini diciptakan Allah, kalau tidak Dia menciptakannya maka alam ini pasti tidak akan ada. Karena itu maka alam berhajat kepada Allah dan tidak dapat melepaskan dirinya daripadaNya.
 
Oleh sebab itu maka wujud alam bukanlah wujud hakiki, tetapi wujud Allah yang hakiki. Adanya alam adalah sekehendak Allah, tetapi mustahil kebalikannya. Oleh sebab itu Dzat Allah yang Maha Esalah yang berkuasa atas segala-galanya, dan yang menentukan atas segala-galanya. Maha Besar dan Maha Agung wujud Allah yang bersifat dengan Maha Esa sedemikian rupa. Maka melihat kepada kemaha-esaan Allah dalam hakikat wujud Allah beserta sifatNya, dan hal keadaan itu terlihat pada alam mayapada ini adalah sebagai dalil atas kemaha-esaanNya, ini disebut dengan Al-Wahidiyah, yakni Dzat Allah bersifat dengan Maha Esa dan ini terlihat dalilnya pada alam ini keseluruhannya. Inilah arti bahwa adanya gelombang karena digerakkan oleh air yang begitu banyak dalam laut, maka hubungan laut dengan gelombang di mana hakikat- nya adalah pada laut, maka inilah misal perumpamaan Dzat Allah yang bersifat dengan Al-Wahidiyah.
 
Kesimpulan:
Wujud alam mayapada ini pada hakikatnya tidak ada, tetapi wujud Allahlah yang betul-betul ada, baik lahir maupun bathin. Wujud Dzat Allah yang bersifat lahir dan bathin itu dilihat oleh orang mukmin dengan kacamata iman, melalui hati sanubarinya yang penuh dengan iman dan ihsan, tetapi wujud Allah sedemikian rupa akan sama saja bagi orang yang hatinya belum ada kemantapan iman, apalagi ihsan dalam berta‘abbud (beribadah) kepada Allah s.w.t. Dan wujud Allah yang demikian pasti tidak akan terlihat oleh hati orang kafir, apalagi jika dia berfahaman atheis. Na‘udzu billah.
 
Sumber : 
“Hakikat Hikmah Tauhid dan Tasawuf”
Abuya Syeikh Prof. Dr. Tgk. H. Muhibbuddin Waly Al-Khalidy

 

Tinggalkan balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here