5 Bentuk Dalil Akal Yang Wajib Diketahui (Ilmu Mantiq)

0
558
Al-Waliyah | Dalam ilmu mantiq, dalil terbagi kepada dua bahagian, yang pertama disebut Dalil Naqli, yaitu kumpulan dalil hukum yang berasal dari Al-Qur’an, Hadist dan Ijmak. Kemudian yang kedua disebut dengan Dalil ‘Aqli, yaitu rujukan dalil yang berasal dari akal. Didalam ilmu mantiq (logika), peran akal sangatlah berpengaruh bagi kepentingan hukum islam pada segala arahnya. Itulah sebabnya mengapa diantara sistem penggalian hukum 4 imam mazhab sangat berbeda-beda. Jika Imam Hanafi lebih berat kepada sistem penggalian hukumnya kepada Dalil Naqli namun hanya sedikit akalnya maka tidaklah seperti Imam Maliki, beliau tetap menjadikan Naqli sebagai rujukan paling wajib sebagai referensi hukum namun beliau lebih kepada ranah akal. Tentunya tidak jauh dari peran dan arahan akal. Kemudian untuk Imam Syafi’i dan Imam Hambali lebih mengambil sistem keduanya.
Oleh karena itu, karena sistem akal juga menjadi sumber timbulnya hukum dan dapat menjadi hukum maka para ulama membagi-bagikan sistem akal yang dibenarkan dan yang mana yang tidak dibolehkan. Berikut ini adalah 5 pembahagian akal yang telah dibagikan sebagai berikut :
 
١. برهان
Kegunaan “Burhan” adalah  untk sampai kepada mathlub tasdiqiy dengan keyakinan yang pasti agar iktiqadnya jazim. yaitu sebuah penjelasan akal atau fikiran akal yang dapat membuat sangat yakin dan sesuai dengan kebenaran Al-Qur’an dan Hadist Rasulullah. Contohnya seperti berfikir tentan ciptaan Allah sehingga menimbulkan keyakinan akan penciptan-Nya.
 
٢. جدل
Kegunaan  “Jadal” adalah untuk menaklukkan lawan , dan  memuaskan (meyakinkan) orang yang tidak paham burhan. Kaedan akal ini diapakaikan untuk membantu penjelasan panjang bagi seseoragn yang belum paham terhadap gambaran keyakinan akal burhan. Kaedah akal ini dapat juga disebut dengan “sistem debat”. Tujuannya adalah tetap meyakini sesuatu yang belum yakin terhadap burhan yang masih rancu.
 
٣. خطابة
Kegunaan “Khitabah” adalah menggemarkan (menyenangkan) si pendengar pada urusan dunia atau akhirat. Kaedah ini dapat dipakai untuk membantu menyenangkan pendengar dalam menerima pesan yang disampaikan oleh pemberi khabar. Contohnya seperti Al-Qur’an atau Hadist yang isinya dibuatkan kata-kata indah dan bagus. Tujuannya tetap sama yaitu menyampaikan makna Al-Qur’an atau Hadist yang ingin disampaikan. Adapun kaedah akal ini dapat disahkan secara hukum terkadang ia menyeleweng. Terkandung pada akal siapa yang mengolahnya.
٤. شعر
Kegunaan “Syii’r” adalah mempengaruhi jiwa untk menggemari sesuatu atau membencinya. Nama kata lain dari kaedah akal ini adalah “Syair”. Sama seperti kaedah Khitabah, namun syi’ir ini lebih mengindahkan secara maksimal terhadap pesan yang disampaikan kepada si pendengar. Namun ranah berjalan akal ini belum terlalu jauh dari kebenaran walaupun pada hakikatnya lebih banyak mengandung kebingungan atau tidak sampainya makna pesan yang ingin disampaikan. Misalkan seseorang menggambarkan pesan dengan bentuk syair atau lagu yang terlalu diindahkan sehingga kebenaran akal hampir hilang.
 
٥. سفسطة
Kegunaan “Safsathah” adalah mentajuhkan dalam keraguan, dan samar (mirip benar) pedahal itu bohong. Dan di katakan juga “mu’alathah” dan “musyaghabah”. Adapun untuk pemakaiannya “haram” dengan berbagai pembahagiannya, Dan yang paling kejinya adalah kaedah hukum akal yang dinamai dengan “mu’ghalathah kharijiah”, yaitu meragukan orang dengan perkara yg samar (mirip benar) tujuannya adalah supaya nampak dia mengalahkan lawan dan menutup kejahilannya. Model hukum ini sangat banyak ditemukan dimasa sekarang.
Inilah 5 hukum akal yang harus diketahui, karena diantaranya terdapat akal yang dapat diterima secara hukum maka demikian sebaliknya. Oleh karena itu para ulama mantiq sangat berhati-hati dalam menggunakan akal ketika dihadapkan keapda Nas Naqli. Hal ini tujuannya agar naqli tidak dicampuri oleh akal namun Al-Qur’anlah yang menunjuki kepada akal.
Adapun model akal yang dapat digunakan pada penjelasan diatas adalah pada poin 1,2 dan 3. Untuk poin yang ke 4 dan 5 tidak dapat lagi dipakai, karena lebih banyak terdapat kerancuan daripada kebenaran.
Semoga kaiian ini bermanfaat bagi kita semua.
Rujukan Kitab :
# Idhahul Mubham
# Sabban Malawi
Sumber :
Tgk. Habibie M. Waly S.TH

Tinggalkan balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here