Bagaimanakah Proses Pertama Kali Islam Masuk ke Aceh, Simak Penjelasannya ?

0
392

alwaliyah | Aceh dalam sejarah memang sudah menjadi target utama dalam ekonomi, politik dan kepentingan lainnya dalam ranah dunia. Bahkan menurut riwayat, sebelum turunya belanda tahun 1874 ke Aceh, faktanya aceh sudah memiliki hubungan diplomatik dengan negara-negara terkenal seperti Turki, Amerika, Inggris dan Portugis. Hal ini dapat dilihat dalam literatur naskah yang tersimpan dalam beberapa tempat didunia, seperti Malaysia, Inggris, Belanda dan Aceh itu sendiri. Selain itu, sejarah juga mencatat bahwa Aceh sejak dipimpin oleh 4 Raja, yaitu Sultan Malikus Shaleh, Sultan Ali Mughayat Syah, Sultan Iskandar Muda, dan Sultanah Saifiatuddin bahwa negri Makkah juga tak lepas dari peran sejarah yang dibawa oleh aceh, hal inipun dapat dibuktikan dari beberapa bukti nyata mengenai pernah berdirinya Hotel Al-Atjih dimasjidil Haram, bahkan hampir 70 %-nya tanah sekitar makkah adalah punya waqaf aceh. Wakaf ini diberikan langsung oleh keturunan Rasulullah yang bernama Habib Abdur Rahman As-Seghaf kepada Aceh. Selain itu beberapa keturunan kerajaan arab disana memiliki nama “atjih” sebagai gelar turunan mereka, hal ini bukti bahwa dari beberapa keturunan arab juga memiliki peran dahulu bahwa memang aceh memiliki hubungan erat terhadap Makkah.

Namun yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, mengapakah Aceh dapat berjaya seperti itu, darimanakah asal nama aceh pertama kali dan bagaimanakah perkembangan islam di aceh pertama kali ? simak penjelasan yang dijelaskan dalam beberapa nara sumber sebagai berikut :
 
Seminar Medan
Pada Tanggal 17 sampai 20 Maret 1963, di kota medan di langsungkan seminar tentang sejarah masuknya Islam ke Indonesia. Banyak ahli sejarah dari seluruh Indonesia hadir dan ikut mengambil bagian dalam perdebatan dan diskusi selama seminar berlangsung. Kesimpulan yang diambil pada seminar tersebut sebagai berikut :
a.   Menurut sumber yang diketahui, pertama kali Islam masuk ke Indonesia pada abad I Hijriah (abad 7 atau 8 M) langsung dari Arab.
b.     Daerah pertama yang didatangi Islam ialah pesisir Sumatra; sesudah terbentuknya masyarakat Islam, maka raja Islam yang pertama berada di Aceh.
c.      Dalam proses pengislaman selanjutnya, orang Indoneisa ikut aktif mengambil bagian.
d.      Mubaligh Islam yang pertama, selain sebagai penyiar Islam juga sebagai saudagar.
e.     Penyiaran Islam di Indonesia membawa kecerdasan dan peradaban tinggi dalam membentuk kepribadian bangsa Indonesia.
Selain kesimpulan tersebut, ada satu sumber sejarah yang menerangkan bahwa mubaligh Islam yang pertama kali datang ke Indonesia, berasal dari Gujarat (pantai barat India, daerah sebelah barat Ahmadabad).  Hal itu dapat diartikan sebagai berikut : Mubaligh-mubaligh itu datang dari Mekkah-Madinah, mungkin saja sebahagian dari Mereka melewati Yaman dan sekitarnya, lalu singgah di Gujarat sebelum meneruskan perjalanan ke timur (Indonesia, Malaysia dan Filipina). Kesinggahan mereka di Gujarat, tentu saja sambil berdakwah dan berdagang. Besar kemungkinan bahwa perjalanan mereka ke timur ditempuh dengan perahu-perahu layar, mengungsi Samudra Indonesia yang begitu jauh.
Pengertian Islam Datang dari Gujarat   
Menurut sejarah, pada tahun itu sudah banyak pula imigran Arab yang menetap di pantai barat Pakistan. Sebagaimana dimaklumi, bangsa Arab, disamping terkenal sebagai pelaut, juga tekenal kelana jalan darat. Sementara itu, rempah-rempah Indonesia sudah amat dikenal dunia, termasuk pula negri Arab. Maka sambil menunggu cuaca yang baik untuk mengarungi perjalanan jauh, mubaligh Arab itu menjadikan Gujarat sebagai Pangkalan mereka untuk menuju ke Indonesia. Tujuannya sudah jelas, yaitu berdakwah untuk menyampaikan ajaran-ajaran Islam sambil berdagan. Mereka menjadikan Gujarat sebagai pangkalan perjalanan ke Indonesia dengan perimbangan praktis psikologis, bahwa hubungan india dan Indonesia sudah ada sejak jaman Hindu dahulu. Dengan demikian bila dikaitkan dengan pertimbangan tersebut, tujuan di atas adalah suatu hal yang tak dapat dikesampingan.
Sangat masuk akal bahwa yang memegan peranan dalam masuknya Islam ke Indonesia adalah bangsa Arab bukanlah orang India. Disamping itu, pada waktu umat Islam di India masih sangat sedikit, jika dibandingkan dengan penganut agama Hindu. Inilah yang menyebabkan kita berkesimpulan bahwa para mubaligh Islam bangsa India, akan mengutamakan berdakwah dinegrinya sendiri, daripada berdakwah ke Indonesia. Lain halnya dengan mubaligh Arab, mereka memang senagaja melakukan dakwah Islamiah sambil berdagan kemana saja, sejauh jarak perjalanan mereka, waktu singgah di Gujarat maupun setelah mereka sampai ke Indonesia. Hal ini tidak menutupi kemungkinan, bahwa pada waktu bangsa Arab melaksanakan tugas dakwahnya di sekitar India, di sana ada mubaligh pribumi sendiri. Sebab hubungan antara orang-orang Arab pendatang dengan orang-orang India di Gujarat cukup erat.
Dan juga harus diakui, bahwa mubaligh bangsa India, karena cintanya kepada bangsanya lebih mengutamakan perhatianya untuk mengislamkan sesama bangsanya, daripada mengislamkan bangsa lain, termasuk Indonesia.
Beberapa Pendapat Tokoh Islam
Almarhum H. Agus Salim dalam bukunya “Riwayat kedatangan Islam ke Indonesia” berkesimpulan bahwa agama Islama masuk ke Indonesia bersamaan dengan masuknya agama Islam ke Tionkok, yakni pada abad VII (7) M. pada tahun 758 M telah terjadi kerusuhan antar kaum niaga Islam di Kanton. Dapat dipastikan bahwa pada abad VII (7) M sudah ada orang Indonesia yang beragama Islam terutama di Sumatra dan Jawa. Dan agama Islam telah berkembang sejak pemerintahan Erlangga pada adab IX (9) M. Alasan yang dikemukakan, sejak semula perdagangan Arab Islam dengan tiongkok telah ramai. Mulai abad IX (9) M tidak ada kapal asing lain kecuali Islam yang melayari lautan itu. Tiap kali perjalanan pulang pergi, pulau Sumatra dan Jawa pasti disinggahi. Jalan laut ke timur itu ada dalam kitab-kitab Arab sebagai berikut :
Sesudah menyelusuri pantai semanjung India sampai ke Kulon (Quion) di pesisir Malabar, kemudian masuk ke lautan besar timur Cyelon (Sringlangka), ke pulau-pulau Nikobar kira-kira 15 hari perjalanan dari Cyelon (Sringlangka), ke ujung utara pulau sumatra (tanah Aceh), melalui selat malaka ke india, ke selatan sampai ke palembang menyebrang ke pulau jawa, pantai utara pulau jawa, 15 hari di laut sampai ke Kamboja, dari situ menyelusuri pantai melalui Kacin Cinasampai ke pesisir Tiongkok. Perjalanan sepanjang pesisir itu pulang pergi selama 2 bulan. Sewaktu pergi, perjalanan sampai ke Aceh selama 40 hari. Disana berhenti beberapa waktu menantikan musim angin baik. Perjalnan pulang juga 40 hari. Begitulah perjalanan itu setiap tahunnya. Dalam perjalanan mereka pasti singgah di setiap pelabuhan Sumatra dan Jawa.
Muhammad Said, sejarawan yang terkenal pada seminar di Medan tersebut berkesimpulan :
a. Sumber sejarah Arab menegaskan bahwa sejak abad IX (9) M (catatan) sudah banyak pedagan Arab beragama Islam yang mendatangi berbagai bandar di Sumatra.
b. Berdasarkan sumber-sumber dari orang-orang luar (Arab dan Tionghoa), Islam masuk ke Indonesia pada abad I H.
c.   Menurut versi itu, pada abad ke I H raja “Tasyi” telah mengirim seorang peninjau ke Holing yang ratunya bernama Sima. Petunjuk lain mengatakan, bahwa Tasyi yang di maksud ini berada di ujung Sumatra. Ada alas an untuk meyakinkan, bahwa yang dimaksud adalah “lamuri” dan “Rami” yang disebut orang Arab pada abad XI (11) M.
d.  Maka kemungkinannya bahwa Tasyi sudah mempunyai raja yang beragama Islam.
e. Prof. Mainar mengatakan, bahwa Rami adalah Lamno yang terletak di pantai barat Sumatra. Di situlah mulai masuknya Islam. Menurutnya dengan menghubungkannya dengan catatan dari Tiongkok itu, ada kemungkinan Tasyi yang dimaksud adalah Lamno atau Rami.
Prof. Dr. HAMKA dalam karangannya (pada risalah seminar di Medan) mengutip keterangan Sir Thomas Arnold dalam bukunya “Preaching of Islam” mengatakan, bahwa pada tahun 684 M di pantai barat pulau Sumatra telah ada satu kelompok perkampungan orang Arab, yakni pada jaman pemerintahan putra Muawiyyah yang bernama Yazid I.
Meskipun dari kutipan Prof.Dr. Hamka itu tidak dijelaskan pantai barat Sumatra itu dimana, tetapi boleh jadi yang dimaksudnya ialah daerah yang terletak antara wilayah Sumatra Barat-Tapanuli-Aceh sekarang ini. Pada seminar sejarah masuknya Islam ke Indonesia yang diadakan di Medan tahun 1963, salah seorang peserta (Dada Meuraxa) mengatakan bahwa daerah yang mula-mula disinggahi oleh mubaligh Islam bangsa Arab pada abad pertama itu, ialah “Barus”.
Dalam buku “Sejarah Melayu”, karangan Tun Muhammad Sri Lanang dimuat Hikayat Raja Pasai. Hikayat itu menceritakan bahwa pada tahun tahun 1536 M raja dari negri Mu’tabar (Malabar) turun dari tahtanya dan memakai baju fakir. Beliau menumpang kapal dari Mekkah yang hendak menuju Samudra Pasai, dengan maksud hendak mengislamkan orang-orang di Samudra Pasai. Pada buku itu disebutkan, bahwa “Setelah beberapa lama berjalan, sampailah beliau pada sebuah negri, fansuri namanya, maka semua orang Fansuri itu masuk Islam”.  
Dari hikayat tersebut maka kita dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :
a.  Daerah pertama yang didatangi oleh Islam ialah sebelah barat ujung Sumatra, yakni Lamno, yang terletak dalam kawasan Lamuri atau Rami (yang disebut oleh orang Arab dalam abad IX (9) di atas) dan untuk sekarang ini terletak di pinggir perbatasan Aceh Besar dengan Aceh Barat. Hal ini disebabkan karena pinggir pantai Lamno yang merupaan pelabuhan kapal-kapal pada jaman dahulu, adalah daerah yang sangat menarik. Merupakan pelabuhan alam strategis di ujung Sumatra yang menrik bagi pelaut-pelaut Arab, Persia, India, dan lain-lain. Apa yang digambarkan dalam catatan sejarah di atas, rasional sekali. Ini dapat kita saksikan bila melihatnya dari arah laut, apalagi dari atas gunung Grute pemandangannya begitu indah, rasanya pelaut jaman dahulu tidak akan meremehkan keindahan dan strateginya pesisir daerah Lamno jaya itu.
b.   Dari situlah perjalanan safari ini dilakukan oleh mubaligh Islam, baik yang menuju ke pesisir barat pulau Sumatra atau yang menuju selat Malaka, sampai ke Kamboja dan pesisir Tiongkok, seperti yang telah diungkapkan oleh H. Agus Salim di atas.
Dengan demikian, itulah dasar dalam menetapkan tentang daerah pertama yang dimasuki Islam di Indonesia. Semantara para ahli sejarah harus terus menyelediki hal ini lebih lanjut.
Aqidah dan Syariah
Apbila hasil keputusan seminar di Medan dan lainnya itu telah menetapkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad I H, maka bagaimanakah gambaran haluan ‘aqidah dan hukum Syari’at yang masuk ke Indonesia pada abad I H itu ?
Bagi kita tidak ada perbedaan, bahwa ajaran ‘aqidah Islamiyah yang dibawa oleh da’i-da’i Islam ke Indonesia pada abad I H adalah menurut Sunnah Rasulullah SAW, dan sunnah sahabat, yang biasa disebut dengan Istilah “Ahli Sunnah wal Jama’ah”. Sedangkan ajaran-ajaran Islam dalam bidang syari’at berdasarkan fatwa sahabat Rasulullah SAW, sebab qaulu shabah atau aqwalush shahabah merupakan sumber hukum Islam, bagi para mujtahidin. Lebih-lebih lagi bagi umat islam secara umum yang tingkat pemikirannya belum sampai ke tingkat pemikirannya belum sampai ke tingkat mujtahid muthlaq, yakni mujtahid yang dapat langsung menggali hukum-hukum Islam dari Al-Qur’an, Hadist atau Sunnah maupun dari Ijma’ dan Qiyas.
Tentang pendapat bahwa ajaran Islam yang masuk ke Indonesia itu berhaluan Ahli Sunnah wal Jama’ah, kiranya dapat juga dibuktikan dengan fakta sejarah sebagai berikut :
1.  Pada tahun 52 H orang-orang Arab dari utusan Mu’awiyyah bin Abu Sufyan telah mendirikan kampung Pariaman, pantai barat Sumatra Barat.
2.  Khalifah Mua’wiyyah bin Abu Sufyan pernah berkirim surat kepada raja Sriwijaya di Jambi (Sumatra Selatan), yakni Sri Maha Raja Lukitawarman. Bahkan beliau pernah berkirim surat kepada Ratu Sima di Kalingga Jepara, Jawa Tengah Isi surat itu selai tentang urusan perdagangan juga tentang ajakan atau dakwah Islam. Karena itulah Raja Jepara tersebut telah masuk Islam kira-kira pada abad akhir I H.
3.  Pada tahun 715 sd 717 M atau sekitar tahun 96 sd 99 H, Sulaiman bin Abdul Malik khalifah Bani Umayyah VII, mengirimkan armadanya ke wilayah Timur lewat teluk Persia, Gujarat, Samudra Pasai, Perlak dan terus ke Jambi. Khalifah juga mengirimkan armadanya ke laut Turki untuk mengepung kota Konstantinopel, dengan kekuatan prajurit sebanyak 600 ribu orang, dan menggunakan kapal layar sejumlah 1700 buah. Namun demkian jumlah armada yang dikirm khalifah ke Timur itu, tidak sebanyak jumlah armada yang dikirimkan ke laut Turki, karena tujuannya bukan untuk melakukan serangan tetapi semata-mata untuk menjalankan dakwah dakwah Islamiyah.
Karena itu, khabar mengenai sampainya utusan khaifah Mu’awiyyah bin Abu Sufyan itu ke hulu sungai Jambi di Sumatra Tengah dan Jepara, di Jawa Tengah, dapat diterima. Apalagi dengan adanya Sri Maha Raja Serindrawarman di Sriwijaya, jambi memeluk agama Islam secara sukarela pada tahun 99 H atau sekitar 86 tahun setelah wafatnya Rasulullah SAW.
4.   Pada waktu khaifah Umar bin Abdul Aziz dari bani Umayyah berkuasa, pada tahun 99 H sd 101 H setelah menggantikan khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, telah terjadi kerospondensi antara beliau dengan maha raja Jambi dan Ratu Sima tersebut. Surat-surat hasil kerospondensi itu, khabarnya masih tersimpan dengan baik di Granada, Spanyol.
Dari uraian tersebut di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ajaran Islam yang masuk ke Indonesia dan telah dianut oleh penguasa-penguasa yang telah memeluk agama Islam itu, seperti Maharaja Jambi dan Ratu Jepara berhaluan Ahli Sunnah wal Jama’ah dan bukan Syi’ah, sebab raja-raja Bani Umayyah yang telah berjasa dengan usahanya menyiarkan Islam ke Timur itu adalah raja Islam yang tidak sejalan dengan haluan atau paham Syi’ah. Sementara mazhab furu’ syari’at pada jaman itu belum terkenal. Karena perkembangan mazhab-mazhab fikih Islam dari 4 Mazhab besar, yaitu Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali, baru dikenal pada pertengahan abad I H sampai pada pertengahan abad III H.
Karena itu seminar di medan tentang masuknya Islam ke Indonesia tersebut menetapkan, bahwa mazhab Syafi’i sejak semula perkembangan Islam telah berpengaruh dalam kerajaan Pasai. Bahwa raja-raja Pasai itu adalah seorang ahli fiqih mazhab Syafi’i. Begitulah selanjutnya kedatangan ulamaulama Islam dari luar negri ke Aceh untuk memperteguh dan memperkuat mazhab Syafi’i yang telah ditanamkan oleh raja-raja Pasai itu. Karena itulah umat Islam Indoneisa sejak dahulu sampai sekarang, hampir seluruhnya menjadi pengikut mazhab Syafi’i, tetapi disamping itu mereka membenarkan juga pengikut mazhab Hanafi, Maliki dan Hambali. Oleh karena itu mereka menamakan dirinya sebagai umat Islam Ahli Sunnah wal Jama’ah. Dan ini sesuai dengan hadist Rasulullah SAW, dalam kitab At-Thabari sebagai berikut :
وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفتَرِقَ اُمَّتِى عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعُينَ فِرْقَةً, فَوَاحِدَةٌ فِى الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِى النَّارِ, قِيْلَ مَنْ هُمْ يَارَسُولُ الله ؟ قَالَ اَهلُ السُنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ. (رواه الطبرانى).

Demi Tuhan yang memegang Jiwa Muhammad, umatku akan berfirqah (terbagi-bagi) menjadi 73 firqah, yaitu satu masuk surga, sedangkan 72 firqah lainnya masuk neraka. Para sahabat bertanya : Siapakah gerenagan firqah yang tidak masuk neraka itu ya Rasulullah ? Nabi menjawab : Ahli Sunnah wal Jama’ah.” (Hadist Imam Thabari).

Istilah yang dipakai Rasulullah SAW, tentang Ahli Sunnah wal Jama’ah itu telah diterangkan oleh para ulama Islam, di antaranya dalam kitab “Ittihaafusaadatil Muttaqin” karangan Muhammad bin Muhammad Al-Husni Az-Zabidi, yakni sebuah kitab yang mensyarahkan kitab Ihya ‘Ulumuddin karangan Imam Ghazali juz ke-2 halaman 6 sebagai berikut :
اِذَا اُطْلِقَ اَهلُ السُنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ فَالمُرَادُبِهِمْ اَلْأَشَاعِرَةُ وَاْلمَاتِرِدِيَّةُ.
“Apabila disebut “Ahli Sunnah wal Jama’ah” maka maksudnya ialah orang yang mengikuti rumusan (hasil penggalian dan pemahaman aqidah dari Asr’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi”.
Inilah pegangan umat Islam di seluruh dunia dalam memahami dan mengembangkan aqidah atau ushuluddin. Sedangkan dalam masalah ‘ibadah dan mu’amalah yang mencakup dalam fiqih Islam mereka, mengikuti salah satu 4 mazhab besar (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali).
Sumber :
Ayah Kami-Syeikhul Islam Abuya Muhammad Waly Al-Khalidy-Bapak Pendidikan Islam”
Abuya Syeikh Prof. Dr. Tgk. H. Muhibbuddin Muhamad Waly

Tinggalkan balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here