Dilarang Nabi..!! Selama Idul Adha Tinggalkan 2 Hal Ini (Untuk Kamu yang Berkurban)

www.alwaliyah.com

alwaliyah.com | Hari Raya Idul Adha selalu identik dengan yang namanya Kurban, Sesuai dengan namanya “Adha” dalam bahasa arab yang artinya kurban. Demikian yang dipertintahkan Allah didalam Al-Quran karena mengikut syariat Nabi Ibrahim Alaihissalam. Tentu orang yang berkurban di Hari Raya ini sangatlah banyak pahala yang Allah berikan, bahkan menurut riwayat Allah akan menghargakan setiap tetesan darah binatang kurban sembelih yang jatuh ke bumi. Itulah sebabnya Nabi selalu menyuruh umatnya untuk berkurban karena begitu banyaknya pahala yang ada didalamnya.  

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Iedul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (qurban), maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim dengan sanad sahih, lihat Taudhihul Ahkam, IV/450).

Adapun hukum berkurban adalah sunnah muakkad, artinya sunnah yang sangat dianjurkan oleh Allah SWT. Tentu perbedaan diantara sunnah muakkad (sunnah yang dianjurkan) dengan sunnah yang Ghairu Muakkad (sunnah yang tidak dianjurkan) sangatlah berbeda, jika sunnah muakkad sama artinya perbuatan sunnah yang hampir mendekati wajib namun bukan kewajiban maka sunnah ghairu muakkad artinya sunnah yang boleh dikerjakan dan boleh ditinggalkan.

Oleh karena itu mengamalkan segala perbuatan yang berhukum sunnah muakkad sangatlah disarani karena sudah tentu kadar pahala didalamnya sangatlah banyak dengan pahala sunnah-sunnah yang lain.

Namun ada hal yang harus diketahui bagi ikhwan yang ingin berkurban, ternyata khusus bagi panitia atau orang yang sedang ingin berkuban dilarang melakukan dua hal dalam syariat kurban, pertanyaannya dua larangan apakah itu dan hikmah apakah dua larangan tersebut tidak boleh dilakukan ?

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَن كانَ لَهُ ذِبحٌ يَذبَـحُه فَإِذَا أَهَلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ

“Apabila engkau telah memasuki sepuluh hari pertama (bulan Dzulhijjah) sedangkan diantara kalian ingin berkurban maka janganlah dia menyentuh (memotong) sedikitpun bagian dari rambut dan kukunya.” (HR. Muslim)

إذا دخل العشر من ذي الحجة وأراد أحدكم أن يضحي فلا يمس من شعره ولا بشره شيئا حتى يضحي

“Apabila sepuluh hari pertama Dzulhijjah telah masuk dan seorang di antara kamu hendak berkurban, maka janganlah menyentuh rambut dan kulit sedikitpun, sampai (selesai) berkurban,” (HR Ibnu Majah, Ahmad, dan lain-lain).

Bagi yang sedang menjalankan kurban dimulai dari hari ke-1 Dzul Hijjah hingga 3 hari setelah idul adha diperintahkan untuk tidak boleh melakukan dua hal, sepertimana yang telah nabi katakan diatas bahwa seseorang yang mempunyai hajat kurban untuk tidak boleh memotong rambut (bulu) dan kuku, walau demikian larangan yang disampaikan oleh Nabi ini tidaklah membawa batalnya berkurban, kurban yang disembelih tetap sah namun alangkah baiknya tidak memotong kuku dan bulu serta rambut bagi yang sedang ada hajat berkurban.

Namun, terkadang sebahagian diantara kita pastilah bertanya, alasan dan hikmah apakah dibalik tidak bolehnya memotong kuku dan memotong rambut selama sedang berkurban :

Pertama : Menyamakan Seperti Orang Haji

Ketika Tanggal 8, 9 sd 10 Dzulhijja, para jamaah haji sedang melakukan ibadah kepada Allah, untuk itu bagi kita yang berkuban juga mengikuti sebagaimana mereka, hal ini dilakukan agar kita semua juga mengingat Allah dan bertaqarrub kepada –Nya sepertimana para jamaah haji diseluruh dunia.

Kedua : Terhindar Dari Api Neraka

Demikianlah yang dikatakan oleh sebahagian ulama, bahwa hikmah tidak memotong rambut, bulu dan kuku adalah semata mengharapkan pahala dari Allah dan agar terhindar dari api neraka. Demikianlah yang telah dijelaskan oleh Baginda Nabi bahwa pahala berkurban sangatlah melimpah hingga satu tetesan darah yang jatuh ke bumi dihargai oleh Allah SWT. Keterangan ini dapat kita lihat didalam kitab Siratul Mustaqim karya daripada Syeikh Nuruddin Ar-Raniry, Jilid 2, Bab Kurban.

Semoga penjelasan singkat ini bermanfaat bagi kita semua.

Sumber : Tgk. Habibie M. Waly S.TH (Sarjana Tafsir Hadist)

         

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like