Kisah Bal’am bin Ba’ura, Ulama Dimasa Nabi Musa Yang Dilaknat Allah SWT

0
776
alwaliyah.com | Di dalam al-Qur’an surah al-A’raf ayat 175-177, Allah SWT mengisahkan tentang Bal’am bin Ba’ura, seorang ulama dari Bani Israil di zaman dahulu yang dikaruniai ilmu, tapi hatinya cenderung kepada harta dunia. Bal’am dikaruniakan nama-nama Allah yang mulia (Ism al-‘Adzham), sehingga setiap kali ia berdoa, doanya pasti diijabah oleh Allah.
Muhammad bin Ishaq bin Yasar menuturkan dari Salim bin An-Nadhr, ia bercerita bahwa Nabi Musa as singgah di tanah Bani Kan’an termasuk bagian dari tanah Syam, di mana Bal’am berada. Ketika itu, beberapa orang pemuka kabilah serta para penguasa yang tidak menyenangi Nabi Musa meminta kepada Bal’am berdo’a agar Nabi Musa dan pengikutnya binasa. Kaum Bal’am pun mendatangi Bal’am seraya mengatakan, “Wahai Bal’am, Musa bin Imran telah hadir di tengah Bani Israil, dan kini telah datang untuk mengusir kami. Sesungguhnya kami adalah kaummu, dan kami tidak memiliki tempat tinggal, sementara engkau adalah orang yang terkabul doanya. Keluarlah dan berdoalah kepada Allah agar menimpakan keburukan kepada mereka.”
Pada awalnya Bal’am menolak. Bal’am menyadari nabi Musa adalah utusan Allah. Nabi Musa berada di jalan kebenaran. Tidak mungkin baginya memusuhi nabi Musa dan pengikutnya. Bal’am berkata, “Celakah kalian! Nabi Allah disertai oleh para malaikat dan orang-orang beriman. bagaimana mungkin aku pergi untuk mendoakan keburukan atas mereka, sedangkan kelebihan yang aku miliki ini dari Allah? Jika aku berdoa kepada Allah supaya menolak Musa berikut orang-orang yang menyertainya, niscaya lenyaplah dunia dan akhiratku.” Tapi, lantaran tekanan politis terus didesak lantaran jabatan Bal’am sebagai pemuka ulama serta terpengaruh ingin mempertahankan jabatan kekuasaan, akhirnya Bal’am pun tak kuasa menolak. Bal’am mendo’akan kebinasaan bagi Nabi Musa. Ulama itu berpindah haluan menjadi pendukung para musuh Musa. Akhirnya Allah menanggalkan kelebihan yang ada pada dirinya.
Kisahnya, Bal’am mengendarai keledainya menuju ke bukit yang dari puncaknya ia dapat melihat pasukan Bani Israil, di bukit Husban. Ketika keledai itu berjalan beberapa langkah, keledai itu menderum. Ia pun turun dan memukulnya. Hingga ketika ia memukulnya dengan keras, barulah keledai itu berdiri, lalu ia menaikinya. Belum berjalan jauh hingga keledai itu menderum kembali, lalu ia memperlakukan keledai tersebut seperti tadi. Belum berjalan jauh keledainya itu kembali menderum, lalu ia memukulnya. Ketika ia menyiksa keledainya seperti itu, maka Allah mengizinkan kepada keledai tersebut untuk berbicara kepadanya sebagai bantahan kepadanya dengan mengatakan, “Celaka engkau, wahai Bal’am! Kemana engkau hendak pergi? Tidakkah engkau melihat para malaikat menolakku dari hadapanku ini? Apakah engkau pergi kepada Nabi Allah dan kaum mukminin untuk mendoakan keburukan kepada mereka.”
Namun, ia tidak bergeming, ia terus menerus memukulnya. Allah membiarkan keledai itu berjalan ketika Bal’am terus memaksanya agar berjalan.
Hingga sampailah di atas bukit Husban, di hadapan pasukan Musa dan Bani Israil, ia mulai mendoakan atas mereka. Tidaklah ia mendoakan keburukan kepada mereka, melainkan Allah memalingkan lisannya sehingga mendoakan keburukan kepada kaumnya. Tidaklah ia mendoakan kebaikan kepada kaumnya melainkan Allah memalingkan lisannya sehingga mendoakan kebaikan kepada Bani Israil. Maka kaumnya mengatakan kepadanya, “Apakah engkau tahu, wahai Bal’am, apa yang engkau lakukan? Engkau hanyalah mendoakan kebaikan kepada mereka dan mendoakan keburukan kepada kami?”
Ia menjawab, “Inilah yang tidak aku kuasai. Ini sesuatu yang telah Allah tentukan.”
Kemudian lidahnya menjulur sampai ke dadanya, lalu ia mengatakan, “Sekarang telah hilang dariku dunia dan akhirat. Tidak tersisa lagi selain makar dan tipu daya, maka aku akan membuat makar dan tipu daya untuk kalian. Sejak saat itulah, Allah menjadikan lidah Bal’am memanjang menjulur seperti laiknya seekor anjing, sebagaimana yang diriwiyatkan oleh Ibnu Katsir di dalam tafsirnya. Sejak peristiwa itu pula lah, bencana demi bencana terus melanda kota itu, mulai dari penyakit menular yang menewaskan lebih dari 70.000 orang. Semua diakibatkan dari kemurkaan Allah terhadap ulama Bani Israel yang menjual agamanya demi politik, jabatan dan kekuasaan, memusuhi kebenaran Musa.
Dalam Nawad Al-Ushul, At-Tarmidzi berkata, “Perumpamaan Bal’am seperti seekor anjing, tidak seperti hewan buas lainnya, karena anjing tidak memiliki hati (yakni hatinya mati), dan penjuluran lidahnya itu disebabkan oleh hatinya yang mati. Berbeda dengan hewan buas lainnya, mereka tidak mati hatinya, karenanya ia juga tidak mengulurkan lidahnya.”
Imam Al-Qurthubi mengatakan, ulama lain mengatakan, perumpamaan dalam ayat ini adalah perumpamaan yang paling buruk yang disandangkan kepada manusia, karena ayat ini mengumpamakan seorang dengan anjing. Orang tersebut tidak mampu untuk dirubah, seperti halnya anjing yang tidak dapat dirubah kebiasaan menjulurkan lidahnya.
Kisah ini bukan untuk memvonis semua ulama yang memiliki kekuasaan dan jabatan, namun agar menjadikan kita mawas diri di posisi mana  kita berada dan berpihak.
Semoga kisah ini bisa kita jadikan i’tibar dan pelajaran untuk bisa menyelematkan para ulama kita yang terjerat dalam pengaruh dan tekanan politik kekuasaan para penguasa.  Sesungguhnya sejarah itu selalu berulang, karena itulah hampir 80% dari isi al-Qur’an berisi sejarah masa lalu, agar kita bisa belajar dari sejarah untuk melangkah lebih baik di masa depan. Wallahu ‘alam.
Referensi:
– Al Jami’li Ahkaam Al-Quran, Imam Al-Qurthubi
– Tafsir Ibnu Katsir

Tinggalkan balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here