Berikut Tiga Hewan Jelmaan Jin, Jika Jumpa Maka Sunnah Dibunuh

0
567

alwaliyah.com | Ada banyak hewan yang berkeliaran disekeliling kita. Mulai dari hewan yang kecil maupun yang besar. Hampir semua hewan yang ada dibumi ini telah diketahui oleh manusia tentang jenis dan namanya, tentang bentuk dan ukurannya, bahkan hingga isi dalam dari si tubuh hewan itu sendiri jugalah sudah diketahui oleh banyak pengetahuan manusia.

Dalam berbagai jenis dan karakteristik hewan, tentunya keberadaan mereka di bumi ini juga Allah tanamkan sisi kemanfaatan dan keburukan untuk kehidupan kita, ada hewan yang tidak membahayakan kehidupan manusia dan juga terdapat hewan yang sangat berbahaya bagi manusia. Namun dalam hal ini anda harus tahu, faktanya terdapat hewan yang memang perlu diwaspadai dan bahkan pun dianjurkan untuk dibunuh jika berjumpa dengan hewan-hewan yang sangat berbahaya tersebut, bukan karena alasan keberadaan mereka dapat membahayakan manusia dalam segi gigitan atau gangguannya, namun nyatanya hewan-hewan ini sesungguhnya merupakan jelmaan dari para jin yang berubah diri atau masuk kedalam tubuh para hewan tersebut. Itulah sebabnya dalam islam, rasulullah menganjurkan untuk setiap umatnya jika berjumpa atau bertemu dengan makhluk Allah ini disunnahkan untuk membunuh dan disingkirkan dari tempat kediaman manusia.

Dan sekarang apakah anda tahu, binatang apa sajakah yang dimaksudkan oleh Rasulullah itu, simak penjelasan dibawah ini :

Jin memanglah salah satu makhluk ciptaan Allah yang telah lama hidup di dunia ini, Bahkan sebelum hadirnya manusia. Mereka juga diciptakan Allah untuk tinggal di bumi sebagaimana kita. Mengenai bentuk, karakter, sifat, dan tingkah laku para jin tidaklah jauh berbeda dari apa yang ada pada manusia, hanya bentuk dan rupa jin sajalah yang menjadi perbedaan dari wujud mereka dengan kita, maka oleh karena itulah dalam setiap ayat Al-Quran Allah selalu menggandengkan dua makhluk ini dalam setiap penyebutan ayat-ayat-Nya. Hal ini dapat kita lihat sebagai contoh kalimat ayat sebagai berikut :

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَـٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَـٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Al-A’raf : 179)

وَأَنَّا ظَنَنَّا أَن لَّن تَقُولَ الْإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللَّـهِ كَذِبًا

“Sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah.(Al-Jin : 5)

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي وَيُنذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَـٰذَا ۚ قَالُوا شَهِدْنَا عَلَىٰ أَنفُسِنَا ۖ وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ

“Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: “Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri”, kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.(Al-An’am : 130)

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانفُذُوا ۚ لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ

“Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (Ar-Rahman : 33)

Sudah jelaslah dari ayat yang telah dicantumkan diatas bahwa manusia dan jin adalah dua makhluk sama yang tidak jauh berbeda dalam menjalani tuntunan Allah di bumi ini. Keduanya akan menerima kenikmatan jika mereka mau beribadah kepada Allah dan demikian juga sebaliknya.

Namun ada beberapa hal yang harus diketahui disini, nyatanya dibeberapa kelompok jin juga terdapat jin-jin yang dapat membahayakan manusia, jin ini tentunya mereka yang tidak suka dengan kehidupan manusia dan tentunya dengan faktor kebencian dan ketidaksenangan ini jualah yang mendorong mereka untuk terus mengganggu manusia agar mereka rela tunduk dan mau menuruti perintah jahatnya.

Adakalanya gangguan ini berasal dari sihir yang mereka gunakan dari kekuatan yang diberikan Allah kepada mereka dan disisi lain adakalanya mereka merubah wujud diri dengan wujud manusia dan hewan.

Terkait tentang perubahan wujud hewan faktanya banyak jin yang merasuki tubuh dari hewan itu sendiri, terkadang mereka berubah wujud seperti hewan dan terkadang juga mereka memasuki diri mereka kedalam tubuh hewan itu sendiri. Tentunya tidak semua hewan adalah jin namun biasanya ada beberapa hewan yang sering ada wujud mereka didalamnya, apa sajakah hewan itu ?

PERTAMA : ANJING

Hampir rata-ratanya Jin banyak mewujudkan diri seperti anjing dan tidak jarang juga sesungguhnya anjing itu adalah jin. Namun tidaklah semua anjing adalah jin akan tetapi terdapat beberapa jenis anjing yang sudah pasti adalah jin, jenis anjing ini biasanya mereka berwarna hitam legam dengan dua bulatan putih di atas dua matanya. Demikianlah yang dijelaskan oleh Jin Muslim yang bersal dari India bernama Mustafa, jin ini memberi pengakuan sebagai berikut :

“Secara keseluruhan ia merupakan himpunan dari salah satu jenis jin. Akan tetapi, yang berwarna hitam legam dengan dua bulatan putih di atas dua matanya, adalah jin sangat jahat yang boleh dibunuh. Kalau engkau melihat anjing seperti itu, jangan kaubiarkan. Bunuh saja.”[1]

Berkenaan hal ini Rasulullah dalam sebuah hadist yang diriwayatkan dari Ibn Az-Zubair, dari Jabir bin Abdullah, katanya,

“Rasulullah saw. memerintah kami untuk membunuh anjing, sampai-sampai ada seorang wanita yang datang dari dusun dengan membawa anjingnya, yang kemudian kami bunuh. Kemudian Nabi saw. melarang kami membunuh anjing, seraya mengatakan, ‘Bunuhlah yang hitam legam dengan dua titik putih (di atas matanya), sebab dia adalah setan.” (Hadis ini di-takhrij oleh Muslim dalam Shahih-nya. Hadis ini merupakan dalil bagi perintah membunuh anjing secara umum. Kemudian perintah ini dihapus (mansukh) dan dikhususkan pada anjing hitam legam, karena ia adalah setan).

Imam An-Nawawi mengatakan, “Makna al-bahim (yang terdapat dalam hadis tersebut) adalah hitam legam. Sedangkan dua titik, adalah titik putih yang berada di atas kedua matanya, dan itu mudah diketahui.”[2]

Diriwayatkan oleh Abdullah ibn Ash-Shamit, dari Abu Dzarr, bahwasanya Rasulullah saw. berkata,

“Bila salah seorang di antara kalian berdiri untuk shalat, maka hendaknya dia membuat penghalang, yang merupakan tanda bagi orang yang lewat. Sebab, kalau dia tidak membuat tanda seperti itu, maka shalatnya pasti akan diputuskan (diganggu) oleh keledai, kaum wanita, dan anjing hitam.” Saya bertanya kepada Abu Dzarr, “Bagaimana halnya dengan anjing hitam dibandingkan dengan anjing merah dan coklat?” Abu Dzarr menjawab, “Wahai anak saudaraku, aku pernah bertanya kepada Rasulullah persis pertanyaanmu, dan beliau menjawab, ‘Anjing hitam adalah setan.”[3]

KEDUA : ULAR

Sepertimana anjing sebelumnya, ular jugalah hewan yang sering dijadikan jelmaan paling sering para jin untuk merubah diri mereka dan tidak jarang juga jin sering memasuki tubuh ular sebagai media tempat tinggal mereka. Dan yang perlu dikatakan disini, tidaklah semua ular adalah jin namun terdapat beberapa ular yang sudah pasti jin. Ular yang dimaksudkan disini adalah ular yang dalam bahasa hadist disebut Al-Abtar dan Dzu al-Thifyatain.

Mengenai dua ular tersebut Rasulullah SAW bersabda dalam hadist riwayat Imam Bukhari sebagai berikut  :

Dari Ibn ‘Umar r.a., bahwasanya beliau mendengar Rasulullah saw. berkhutbah di mimbar. Rasulullah saw. Berkata : “Bunuhlah ular, bunuhlah dzu aththifyatayn dan al-abtar, sebab kedua binatang itu menyembur mata dan menggugurkan kandungan.”

Di dalam Shahih Al-Bukhariy juga diriwayatkan bahwa Nabi saw. memerintahkan para sahabat membunuh ular, dan sesudah itu melarang membunuh ular yang menghuni rumah, sebab mereka adalah jin-jin yang menetap di rumah-rumah itu.

Dalam Fat-h Al-Bariy Ibn Hajar mengatakan, “Adapun perkataan Nabi yang berbunyi: ‘Bunuhlah dzu ath- thifyatayn,’ adalah ular yang mempunyai dua garis putih di punggungnya.” Ibn Abd Al-Barr mengatakan, “Disebut-sebut bahwa, dzu ath-thifyatayn adalah sejenis ular yang mempunyai dua garis putih di punggungnya, sedangkan al-abtar adalah ular buntung (tidak berekor).”

An-Nadhar bin Syumail menambahkan, “Dzu ath-thifyatayn adalah ular yang warnanya coklat yang begitu seorang wanita hamil melihatnya, pasti dia keguguran. Sedangkan al-abtar adalah ular yang pendek ekornya.” Sementara itu Ad-Dawudi mengatakan bahwa, “… ia adalah ular yang panjangnya sekitar sejengkal atau lebih sedikit. Kedua jenis ular tersebut acap kali menyembur mata.”[4]

Dalam salah satu hadis yang diriwayatkannya dari Az-Zuhriy, Muslim mengatakan bahwa Az-Zuhri mengatakan, “Kedua jenis ular itu dapat dikenali dari racunnya, sedangkan yang dimaksud dengan ‘membutakan mata’, terdapat dua interpretasi. Yang pertama dari AlKhithabi, sedangkan yang kedua dari ulama lainnya. Interpretasi pertama mengatakan bahwa, yang dimaksud dengan itu adalah bahwa kedua ular itu bisa membuat mata menjadi buta dengan semata-mata melihatnya saja, karena adanya kekhususan yang diberikan Allah kepadanya dalam kedua matanya, manakala bertatapan dengan mata manusia. Interpretasi kedua mengartikannya dengan sambaran atau semburan. Tetapi interpretasi pertama lebih populer. Para ulama mengatakan bahwa di kalangan ular terdapat satu jenis ular yang disebut An-Nazhir, (Si Pelihat), yang bila pandangannya menatap mata seseorang, maka orang itu akan mati seketika. Wallahu a’lam.[5]

Sama seperti anjing, bahwa ketika berjumpa ular ini maka sunnah dibunuh. Demikian jugalah yang pernah dijelaskan oleh Jin Islam bernama Mustafa sebagai berikut :

“Usirlah, dan peringatkan tiga kali. Kalau la lari, biarkanlah., Kalau ia membandel, maka ia jelas adalah makhluk jahat. Jadi, bunuhlah. Kalaupun la adalah betul-betul ular, maka kita kaum Muslimin diperintahkan untuk membunuh ular.” [6]

KETIGA  : KUCING

Kucing yang dimaksudkan disini adalah kucing hitam, namun tidak juga maknanya semua kucing hitam akan tetapi terdapat satu diantara semua kucing hitam yang sudah pasti adalah jelmaan jin. Kucing hitam ini memiliki ciri-ciri tersendiri, ciri-ciri ini disebutkan langsung oleh Jin Muslim yang bernamakan mustafa sebagai berikut :

“Kucing hitam, lazimnya adalah setan. Sedangkan yang berwarna lain, kemungkinan juga merupakan penjelmaan jin, khususnya jin-jin perempuan yang memang sangat senang menampakkan diri dalam bentuk kucing-kucing yang indah atau yang putih warnanya”.[7]

Dalam hal ini Imam Ibn Taimiyyah pernah mengatakan, “Jin bisa menampakkan diri dalam wujud ular, anjing, dan kucing hitam. Sebab, warna hitam dapat menghimpun kekuatan setan dibanding warna lainnya, termasuk di dalamnya kekuatan panas.”[8]

Demikianlah 3 hewan jelamaan jin yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW. Tentunya hikmah diciptakan Allah atas makhluk jelmaan jin ini memiliki maksud dan tujuan yang dikirimkan oleh sang Maha Penguasa, salah satu hikmah dan tujuan itu adalah kewaspadaan kita selalu dalam mengambil langkah dan tentunya harapan pertolongan dengan tidak meminta bantuan kepada selain-Nya adalah tujuan inti dimana kita ini sebagai manusia diciptakan. Tidak ada lain penyembahan, bantuan, pertolongan dan permintaan melainkan hanya kepada Allah SWT.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman :

قُلْ إِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَعْبُدَ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّـهِ ۚ قُل لَّا أَتَّبِعُ أَهْوَاءَكُمْ ۙ قَدْ ضَلَلْتُ إِذًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku dilarang menyembah tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Allah.” Katakanlah: “Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-An’am : 56)

Semoga penjelasan ini bermanfaat, Wallahu a’lam.

Sumber : Tgk. Habibie M. Waly S.TH

Reverensi :

[1] Dialog Dengan Jin Muslim, Muhammad Isa Daud, hal. 122 (Terbitan : Dar Al-Funun Ii Ath-ThiWat wa An-Nasyr wa At-Taghlif, Jedah) thn. 1992

[2] Lihat Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawiy, Kitab Al-Musaqah wa al-Muzara’ah.

[3] Lihat Dalam Shahih Muslim, Bab “Qadr Ma Yasturu Al-Mushalliy”.

[4] Lihat Fat-h Al-Bariy, jilid VI.

[5] Lihat Shahih Muslim bi Syarh An-Nawawiy, jilid V, hlm. 230-231.

[6]  Ibid…Dialog Dengan Jin Muslim, Muhammad Isa Daud, hal. 123

[7] Ibid

[8] Lihat Majmu Fatawa Ibn Taimiyyah.

           

Tinggalkan balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here