Bagaimanakah Cara Para Sahabat Nabi Mengeluarkan Hukum Dalam Islam ?

0
314

alwaliyah.com | Mengenani penggalian hukum di zaman sahabat Nabi yang zamannya dimulai sejak waktu wafatnya Rasulullah SAW hingga sampai wafat sahabat yang paling akhir hidupnya di dunia ini dan sampai meninggalnya sahabat itu masih tetap mempertahankan imannya kepada Rasulullah SAW dan penghabisan zaman ini menurut perkiraan ialah pada akhir abad pertama hijriyah. Sedangkan zaman khalifah empat selama 30 tahun adalah dimulai dari pengangkatan Abu Bakar Shiddiq r.a. sebagai khalifah pertama hingga sampai turun tahta Hasan bin Ali terhadap Muawiyah bin Abi Sufyan. Hal keadaan ini berdasarkan Hadits riwayat Al Bazzaz dan Al Baihaqy, yang menyatakan bahwa khilaafah adalah selama 30 tahun, kemudian kekuasaan sesudahnya adalah berdasarkan kerajaan. Penggalian para sahabat terhadap hukum Islam meningkat perkembangannya. Karena melihat kekuasaan Islam sudah bertambah luas dan masyarakat umat Islam sudah bermacam-macam suku dan bangsanya, di samping bermacam-macam pula adat istiadatnya.

Dasar Penggalian Hukum Islam di Zaman Ini

Maka dasar penggalian hukum para sahabat, adalah Kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Apabila adalam kedua ini mereka tidak dapat berhasil dalam penggalian hukum, barulah mereka mulai melaksanakan penggalian hukum berdasarkan al-ijtihad, dimana para sahabat itu mengambil qaidah-qaidah hukum, atau Al-Qawa’idul Kulliyyah berdasarkan pemahaman dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.

Sungguhpun hal keadaan ini memungkinkan bagi para khallifah dan para sahabat, tetapi penggalian hukum berdasarkan ijtihad sangat sedikit yakni hanya dibatasi pada kasus-kasus yang terjadi saja dan tidak ada sama sekali memikirkan pada kasus-kasus yang kemungkinan bisa terjadi dalam masyarakat umat manusia. Berarti mereka itu sangat berhati-hati pada berfatwa dan bahkan lebih sering antara sesama mereka serah menyerahkan hukum untuk dikaji oleh sahabat yang lain.

Perbedaan Ijtihad Antar Sahabat

Dan apabila terjadi perbedaan ijtihad antara sesama sahabat, maka setiap mereka mengatakan secara tanggung jawab bahwa itu adalah pendapatnya sendiri dan tidak ada anggapan pada pendapat orang lain adalah salah. Inilah makna ucapan Abu Bakar Shiddiq r.a.

هَذَا رَأْيِى فَإِنْ يَكُنْ صَوَابًا فَمِنَ الله وَإِنْ خَطَأً فَمِنِّى وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ

“Ini adalah pendapatku, maka jika pendapat itu benar maka datangnya dari Allah dan jika salah maka dariku, dan aku meminta ampun kepada Allah.”

Umar juga begitu. Dalam menilai ijtihadnya sendiri, beliau berkata:

إِنْ يَكُنْ صَوَابًا فَمِنَ اللهِ وَإِنْ يَكُنْ خَطَأً فَمِنْ عُمَرَ. لَا تَجْعَلُوا خَطَأً الرَّأْيِ سُنَّةً لِلْأُمَّةِ

“Jika adalah benar maka itu dari Allah dan jika salah maka dari umar. Janganlah kalian membuat penambahan pendapatku untuk umat.”

Beliau mengungkapkan lagi:

إِنَّ عُمَرَ لَا يَدْرِى أَنَّهُ أَصَابَ الْحَقَّ وَلَكِنَّهُ لَمْ يَأْلُ جُهْداً

“Sesungguhnya umar tidak mengetahui tentang kebenaran yang hakiki akan tetapi ia tidak terhindar dari usahanya.”

Demikian seterusnya para sahabat-sahabat yang lain.

Pembukuan Al-Qur’an

Di antara ijtihad para sahabat Nabi adalah tentang pembukuan kitab suci Al-Qur’an, dimana di zaman Nabi sama sekali belum ada ide pembukuan itu. Karena mungkin saja Rasulullah masih hidup, sedangkan wahyu masih diharapkan turun, meskipun sudah ada ayat terakhir pemberitahuan tentang berakhirnya wahyu pada waktu Nabi naik haji yang terakhir, yang terkenal padanya dengan khutbah wada’. Maka berserakanlah ayat-ayat Al-Qur’an ditulis dimana-mana, apakah itu di tulang, di kayu, dan sebagainya. Kemudian setelah Abu Bakar Shiddiq r.a. menjadi khalifah pertama, dimana pada zaman beliau ada peristiwa Al Yamamah yang mengakibatkan para sahabat yang menghafal Al-Qur’an banyak terbunuh, barulah Saidina Umar memperingatkan Abu Bakar Shiddiq supaya Al-Qur’an dibukukan, karena khawatir kalau-kalau Al-Qur’an bisa hilang dengan habis meninggalnya para qari.

Semula Abu Bakar Shiddiq agak ragu-ragu tentang saran Umar bin Khattab itu, karena hal keadaan ini tidak terjadi di zaman Nabi. Tetapi setelah beliau mendalami pendapat Umar, akhirnya beliau lega, karena pada pendapat Umar itu bertujuan untuk kemashlahatan Islam sebagai agama. Maka barulah beliau memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan membukukannya. Penunjukan Zaid bin Tsabit adalah karena beliau salah seorang sahabat Nabi yang tidak pernah absent dalam majlis Rasulullah SAW, dan juga seorang sahabat Nabi yang paling hafal Al-Qur’an di antara sahabat lainnya. Meskipun Zaid bin Tsabit pernah mengungkapkan isi hatinya tentang perintah Abu Bakar, jikalah mereka memerintahkan aku memindahkan satu bukit tidaklah begitu berat dari pada perintah mengumpulkan kitab suci Al-Qur’an (untuk membukukannya).

هو الله لوكلفوني نقل جبل من الجبال ماكان أثقال علي مما أمرني به من جمع القرآن

“Demi Allah aku telah terbebani untuk memindahkan gunung ke satu gunung lainnya, adalah lebih berat atasku daripada aku diperintahkan untuk mengumpulkan Al-Qur’an.”
Begitulah seterusnya dalam peristiwa ini.

Pengangkatan Abu Bakar Sebagai Khalifah Pertama

Contoh yang lain dalam ijtihad sahabat adalah tentang penerimaan para sahabat atas pengangkatan khalifah Abu Bakar Shiddiq r.a. Dasar mereka diantaranya ialah, apabila Rasulullah SAW telah merelakan kepada Abu Bakar mengenai agama kita (seperti Imam shalat ketika Nabi berhalangan) kenapa kita tidak rela pada beliau dalam memimpin dunia kita?

رَضِيَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم لِدِيْنِنَا، أَفَلَا نَرَضَاهُ لِدُنْيَنَا ؟

“Rasulullah SAW telah meridhai Abu Bakar pada agama kita, mengapa kita tidak rela pada beliau dalam memimpin dunia kita. ”

Jadi berarti dasar mereka adalah analogi hukum dari Imam shalat kepada imam pemerintahan.

Mengenai sumber hukumm seterusnya di zaman sahabat adalah sunnah Nabi dalam arti bahwa fungsi sunnah itu adalah sekadar menjelaskan dan mengungkapkan kandungan Kitab Suci Al-Qur’an. Sudah barang tentu sunnahnya itu bersifat shahih atau hasan. Apabila tidak ada sunnah Nabi baru mereka turun kepada ijma’. Artinya consensus para sahabat yang mengerti hukum. Dan ijma’ dalam zaman sahabat adalah begitu gampang, karena kebanyakan para sahabat terutama mereka yang mujtahidin pada umumnya berdomisili di Makkah atau di Madinah. Bahkan Umar bin Khattab r.a. telah mengeluarkan keputusan, bahwa sahabat-sahabat Nabi yang senior tidak diperbolehkan meninggalkan Madinah ke daerah-daerah penaklukan Islam, terkecuali apabila sudah darurat sekali, demi untuk kepentingan Islam.

Apabila tidak ada ijma’, baru mereka menggali hukum dengan jalan ijtihad dimana hal keadaan ini lebih banyak mempergunakan alat al-qiyas, seperti pada contoh yang tersebut di atas. Dan oleh karena kasus-kasus kemasyarakatan di zaman sahabat belum begitu banyak, maka sangat sedikit penggalian hukum mereka berdasarkan ijtihad. Dan bagi para ilmuwan hukum lebih banyak menerima ijtihad sahabat meskipun ada sebagiana pendapat-pendapat mereka yang secara lahiriyah tidak diterima, karena sifatnya adalah ijtihad, tetapi secara global pendapat-pendapat para sahabat mereka jadikan pedoman dan sandaran.

Sebab Terjadi Perbedaan Pendapat

Diantara para sahabat Nabi juga pernah terjadi perbedaan pendapat, dalam arti perbedaan pada furu’, bukan perbedaan pada ushul. Artinya qaidah-qaidah hukum atau dalil-dalil hukum. Tetapi adalah perbedaan itu terjadi pada penerapan ushul atas furu’. Sebabnya adalah bermacam-macam, diantaranya ialah:

PERTAMA :

Perbedaan fatwa diantara para sahabat itu, adalah melihat kepada perbedaan faham dalam memahami ayat hukum dalam kitab suci Al-Qur’an. Misalnya terjadi dua hukum yang berbeda pada dua masalah dimana salah satu dari kedua hukum itu pada satu masalah mencapai pada masalah yang lain, dimana hukumnya sudah ada pula. Contohnya adalah ayat yang bertalian dengan perempuan yang cerai karena meninggal suaminya, maka ayat itu mewajibkan supaya perempuan tersebut ber’iddah selama 4 bulan 10 hari.

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah Para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari.”

Ayat itu mencapai kepada perempuan tersebut dimana dia sedang hamil. Artinya harus menunggu juga 4 bulan 10 hari, meskipun perempuan itu melahirkan bayinya sebelum habis masa tersebut. Padahal ayat yang lain yang berkenaan dengan perempuan yang bercerai dengan sebab thalaq, apabila perempuan itu hamil, maka ‘iddahnya adalah sampai dia melahirkan.

“Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya).”

Maka terjadilah perbedaan pendapat pada masalah wanita hamil yang ber’iddah dengan sebab cerai wafat; apakah diterapkann kepadanya 4 bulan 10 hari berdasarkan ayat hukum pertama, meskipun bayinya lahir sebelum itu, ataukah diterapkan hukum perempuan ber’iddah dengan cerai thalaq, berdasarkan ayat yang mengemukakan masa ‘iddahnya adalah sampai ia melahirkan bayi. Karena antara wafat dan thalaq sebagai sebab-sebab bagi adanya cerai dan ‘iddah, tidak ada perbedaan pada keduanya. Itulah sebabnya maka berbeda pendapat antara para sahabat Nabi dalam hal tersebut.

KEDUA :

Perbedaan fatwa dengan sebab melihat pada berbedanya pendapat penggalian hukum dalam Sunnah Rasulullah SAW. Hal keadaan ini melihat kepada tiga macam dasar:

a. Berbeda pendapat, apakah Nabi ada mengatakan ya atau tidak.
b. Pendapat para sahabat, bahwasanya itu adalah pendapat dan ijtihad Nabi.
c. Pendapat para sahabat, apakah hukum itu sudah mansukh atau belum.

Contoh pertama, adalah terjadi pendapat para sahabat mengenai seorang manusia dalam bulan puasa yang berjunub sampai pagi hari. Menurut pendapat Abu Hurairah bahwa orang itu tidak sah puasanya, karena dia sebelum subuh tidak melaksanakan kewajiban mandi untuk menghilangkan hadats junub. Tetapi kemudian sebagian dari isteri Nabi SAW menyampaikan kepada Abu Hurairah, bahwa hukum masalah itu tidak demikian, karena itu maka sah puasanya. Lantas Abu Hurairah ruju’ dari pendapatnya, karena mengetahui ada hadits Nabi yang menyatakan hukum sebenarnya. Tidak seperti pendapatnya di atas.

Ini adalah salah satu sebab yang sering terjadi, kenapa para sahabat Nabi itu diantara mereka adanya perbedaan pendapat tentang penggalian hukum Islam itu sendiri. Masalahnya sesuai dengan pendapat Abu Hurairah, bahwa tidaklah keseluruhan sahabat Nabi itu selalu berada dekat nabi pada setiap waktu. Sebab sahabat-sahabat Nabi yang Muhajirin mereka itu disibukkan dengan berjual beli atau berdagang di pasar-pasar Madinah. Sedangkan sahabat-sahabat yang berasal dari Madinah yang disebut dengan istilah Al-Anshar, kebanyakan mereka disibukkan dengan pertanian dan ladang-ladang kurma. Dan aku, kata Abu Hurairah, meskipun perutku sering lapar karena aku seorang yang tidak punya, aku selalu mendampingi Rasulullah. Di samping itu pula tidak ada seorang pun dari sahabat Nabi pada khususnya atau dari umat Muhammad pada umumnya yang mampu meliput semua hadits Rasulullah SAW.

Sebab Nabi kadangkala mengucapkan sebuah Hadits atau berfatwa atau memutuskan hukum atau mengerjakan sesuatu, maka didengar oleh sahabat yang hadir atau dia melihat dan kemudian disampaikan, atau sebagian mereka yang hadir menyampaikan pada orang-orang yang tidak hadir, hingga berkembanglah. Sedangkan pada pertemuan yang lain Nabi juga seperti di atas. Tetapi yang menghadiri pertemuan itu adalah sahabat Nabi yang tidak hadir pada pertemuan pertama, maka bisa saja pada pertemuan kedua Nabi mengungkapkan pengetahuan yang tidak diungkapkan oleh beliau pada pertemuan pertama. Dan yang terjadi pada pertemuan pertama, tidak diketahui oleh orang-orang yang menghadiri pada pertemuan kedua. Ini pada hakikatnya sama saja, antara para sahabat, apakah itu mereka para khalifah yang empat atau bukan. Meskipun para khalifah yang empat itu adalah sahabat-sahabat Nabi yang lebih banyak mengetahui tentang fatwa dan keadaan Nabi dari sahabat-sahabat yang lain. Contohnya Abu Bakar Shiddiq r.a., beliau selalu mendampingi Nabi, baik pada waktu Nabi berada di Madinah atau pada waktu Nabi Musafir, bahkan hampir semua waktu sampai malam hari beliau mendampingi Nabi untuk kepentingan umat Islam. Umar bin Khattab juga demikian, karena itulah Rasulullah banyak sekali ditemukan dalam hadits-hadits beliah kalimah-kalimah; Aku beserta Abu Bakar dan Umar masuk …, Aku beserta Abu Bakar dan Umar keluar …, Aku beserta Abu Bakar dan Umar pergi …, Aku beserta Abu Bakar dan Umar telah tiba …

Meskipun demikian pada waktu orang bertanya kepada Abu Bakar mengenai bagian pusaka pada nenek perempuan, beliau berkata: “Bagaimana pendapatmu tentang sesuatu itu dalam Kitab Suci Al-Qur’an dan aku belum tahu tentang hukum ini dalam Sunnah Rasulullah, tetapi berilah waktu kepadaku untuk aku bertanya pada sahabat-sahabat yang lain.” Tidak lama kemudian, dua orang sahabat Nabi yang bernama Al-Mughirah bin Syu’bah dan Muhammad bin Musallamah datang kepada Abu Bakar dan keduanya bersaksi di hadapan beliau bahwa Nabi SAW telah memutuskan hukum bahwa kepada nenek perempuan diberikan 1/6 dari harta yang meninggal.

Cobalah bayangkan perbedaan antara Abu Bakar Siddiq dan Umar bin Khattab dengan sahabat-sahabat yang lain, seperti dalam contoh tersebut dan tergambar di atas. Tetapi masih ada Hadits atau Sunnah Nabi yang mana para khalifah tidak tahu tapi diketahui oleh para sahabat yang lain. Maka inilah dasar hukumnya bagi umat Islam pada menetapkan ketentuan warisan bagi Al-Jaddah.

Adapun contoh dasar yang kedua, adalah perbedaan penggalian hukum disebabkan materi hadits itu sendiri, karena ada sebagian dari perawi hadits dianggap tidak dikenal atau dituduh tidak cukup syarat-syarat yang diperlukan sebagai perawi hadits atau dituduh hafalannya tidak baik.

Atau hadits yang dimaksud bukan hadits yang musnad, umpamanya. Tetapi orang-orang baik dari para ilmuwan yang dipercaya telah meriwayatkan hadits itu, bukan melalui riwayat hadits yang telah terjadi padanya tuduhan-tuduhan di atas dan hadits yang diterima mereka adalah muttashil. Jadi terjadilah perbedaan pendapat pada satu hadits, dimana sebagian ilmuwan menganggap kuat dan sebagian yang lain menganggapnya tidak kuat.

Oleh sebab itu kita temukan sebagian para ilmuwan hukum disebabkan kasus ini, dia berkata:

قَوْلِى فِى هَذِهِ الْمَسأَلَةِ كَذَا، وَقَدْ رُوِىَ عَنْهَا حَدِيْثٌ بِكَذَا فَإِنْ كَانَ صَحِيْحًا فَهُوَ قَوْلِى وَإِلَّا فَلَا

“Perkataanku pada masalah ini adalah karena ada haditsnya, maka jika hadits itu shahih, itulah pendapatku dan jika hadits itu tidak shahih maka itu bukan pendapatku.”

Adapun dasar yang ketiga, maka terjadi perbedaan penggalian hukum diantara para sahabat, karena sebagian sahabat masih menganggap bahwa hukum itu masih berlaku dan sebagian sahabat yang lain menganggap sudah mansukh. Maka dari perbedaan ini menimbulkan perbedaan yang lain, seperti bagaimana mengumpulkan antara dua pendapat yang memang sudah terjadi. Contohnya, mengenai kawin muth’ah, artinya kawin kontrak. Rasulullah telah memudahkan perkawinan begini pada tahun Khaibar , tetapi kemudian Nabi melarangnya.

Kemudian Nabi memudahkan lagi pada tahun Authas , kemudian Nabi melarangnya lagi. Maka terjadilah perbedaan pendapat sahabat mengenainya. Ibnu Abbas berpendapat, kawin kontrak itu dimudahkan karena darurat dan kalau daruratnya sudah habis karena peperangan sudah selesai, maka kawin kontrak tidak diperbolehkan lagi. Begitulah hukumnya ini. Tetapi kebanyakan para sahabat dan ilmuwan hukum berpendapat, bahwasanya kawin kontrak itu memang telah terjadi hukum rukhsah padanya, tetapi setiap larangan Nabi adalah merupakan nasakh atau menyatakan habis masa berlaku hukum rukhsah itu.

Begitulah sebagian dari gambaran kenapa kadangkala kita melihat adanya terjadi perbedaan fatwa para sahabat, dikarenakan perbedaan pada kasus cara penggalian hukum antara sesama mereka.

Sebagaimana dimaklumi, bahwasanya sunnah Nabi pada periode sahabat Nabi belum dibukukan dalam bentuk buku atau kitab, bahkan memang tidak diizinkan untuk menulisnya, terkecuali pada sebagian sahabat yang telah diizinkan Rasulullah SAW pada ujung masa atau periode Nabi. Dimana pada waktu itu sudah aman dalam arti tidak ada lagi keraguan campuran antara Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, dan penulisan sunnah Nabi itu adalah sekadar catatan-catatan belaka. Tidak sampai kepada tingkat pembukuan sebagai sebuah kitab.

Dalam sejarah di zaman Umar r.a., beliau tidak mengizinkan sahabat-sahabat senior meninggalkan kota Madinah, terkecuali karena hal yang penting sekali demi untuk perluasan Islam. Tetapi pada periode terakhir dari zaman Ustman r.a. barulah mulai banyak para sahabat bepergian ke negeri-negeri penaklukan Islam. Ini sudah barang tentu tidak terlepas pula dari fungsi sahabat Nabi untuk menyampaikan fatwa dan hukum yang dapat saja berbeda fatwa dan hukum itu karena berbedanya keadaan negeri dan adat istiadanya, bahkan para sahabat itu tidak sama dalam tingkatan pengetahuan dan liputan hadits-hadits atau sunnah Nabi. Apalagi keadaan ekonomi dan social berbagai negeri itu juga tidak sama.

Abuya Syeikh Prof. Dr. Tgk. H. Muhibbuddin Waly (Penggalian Hukum Islam Dari Masa ke Masa, hal. 13-25 – Al-Waliyah Publishing. Tahun 2017)

Tinggalkan balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here