Apa Hukum Berfoto Dalam Islam, Benarkah Berdosa ? (Ustad Abdul Shomad)

0
437

alwaliyah.com | “Manusia yang paling keras azabnya pada hari kiamat adalah orang yang menggambar”. (HR. al-Bukhari dan Muslim). Apakah yang dimaksud dengan gambar dalam hadits di atas?  Apakah poto termasuk gambar yang dimaksud dalam hadits di atas?

Berikut penjelasan para ulama:

Pendapat Syekh Ibnu ‘Utsaimin:

أما التصوير الحديث الآن الذي يسلط فيه الإنسان آلة على جسم معين فينطبا هذا الجسم في الورقة فهذا في الحقيقة ليس  وهذا الذي التقطه بهذه الآلة لم يجعله على صورة ، لأن التصوير مصدر صور أي: جعل الشيء على صورة معينة ،ً تصويرا معينة، الصورة المعينة هو بنعسه يخطط، يخطط العينين والأنف والشعتين، وما أشبه ذلك.

Adapun gambar moderen zaman sekarang; seseorang menggunakan alat untuk mengambil gambar objek tertentu, lalu kemudian gambar tersebut terbentuk di kertas, maka itu sebenarnya bukanlah makna tashwir, karena kata tashwir adalah bentuk mashdar dari kata shawwara, artinya: menjadikan sesuatu dalam bentuk tertentu. Sedangkan gambar yang diambil dengan alat tidak menjadikannya dalam bentuk sesuatu. Gambar berbentuk adalah gambar yang dibentuk, bentuk kedua mata, hidung, dua bibir dan sejenisnya[1].

Pendapat Syekh Ibnu ‘Utsaimin lagi:

 هذا ليس بتصوير في الواقا؛ لأن الإنسان ما خطط؛ لا خطط العيون ولا ، يلقي الآلة يوجهها إلى شيء تصور ً إنسان مثلا  هذه الآل ، من هذا ً الأنف ولا العم ولا شيئا يوم القيامة المصورون ً والحديث: (أشد الناس عذابا ، ة وجهها إلى أي شيء تلتقطه  من السلف إلى أن المحرم هو الصورة المجسمة والتي يصنعها الإنسان بيده ٌ الذين يضاهئون بخلق الله) ولهذا ذهب كثير أما هذا فهو مجرد لون، ولهذا جاء في حديث زيد بن خالد : (إلا ، وقالوا: بأن هذا هو الذي يكون فيه المضاهاة ً وتكون جسما  أما ، نرى أنه حرام ، أو بعجينة تصنعها على شكل حيوان ، في ثوب ً في ثوب). لكني أرى: أن التصوير باليد سواء رقما ً رقما بقلمك ثم أدخله أنا بالآلة المصورة، هل ً . الدليل: اكتب لي كتابا ً أصلا ً ليست تصويرا ، التقاط الصورة بالآلة العوتوغرافية فلا أكون أنا الذي كتبت الحروف هذه أم لا؟ تنسب الكتابة إليك ولا شك، وليس لي، ولذلك تجد الإنسان الأعمى يستطيا أن   أو ، أو تابعية ، مثل: الرخصة ً صحيحا ً ما هذا الغرض؟ إذا كان غرضا ، لكن يبقى النظر إذا صور لغرض ، وكذلك الكتاب ، يصور جواز، أو إثبات شيء، فهذا لا بأس به، أما إذا كان لمجرد الذكرى وأن يكون الإنسان كلما حَّن إلى صديقه ذهب ينظر إلى هذه الصورة فهذا لا يجوز؛ لأن هذا مما يجدد تعلق القلب بغير الله عز وجل، ولاسيما إذا مات وصار يرجا إلى هذه الصور  . إلى حزنه ً يتذكرها فإنه سوف يزداد حزنا

Misalnya seseorang memakai suatu alat (kamera) yang ia arahkan ke suatu objek, lalu ia ambil gambar, sebenarnya ini bukanlah makna tashwir, karena manusia adalah sesuatu yang bergaris/berbentuk, sedangkan pada gambar itu tidak ada garis/bentuk mata, tidak ada garis hidung, tidak ada garis mulut, tidak satu garis pun. Alat (kamera) tersebut diarahkan pada suatu objek, lalu alat tersebut menangkap gambar objek tersebut. Dalam hadits disebutkan, “Manusia yang paling keras azabnya pada hari kiamat adalah orang yang menggambar; orang-orang yang menandingi penciptaan dengan penciptaan Allah Swt”. Berdasarkan ini mayoritas kalangan Salaf mengharamkan gambar yang berbentuk, yang dibuat manusia dengan tangan, memiliki tubuh. Mereka berkata, “Sesungguhnya di dalam bentuk itu terdapat sikap menandingi penciptaan”. Sedangkan gambar poto hanya sekedar warna. Oleh sebab itu dalam hadits riwayat Zaid bin Khalid disebutkan, “Kecuali goresan pada kain”. Tetapi manurut saya bahwa gambar yang dibentuk dengan tangan, apakah goresan pada kain atau adonan yang dibentuk berbentuk makhluk hidup, itu haram. Adapun mengambil gambar dengan alat potografi, maka tidak haram. Karena pada dasarnya itu bukan gambar berbentuk. Bukti: tulislah satu tulisan dengan pena Anda, kemudian saya masukkan tulisan itu dengan kamera, apakah saya yang menulis tulisan itu? Tulisan itu tetaplah tulisan Anda, tidak diragukan lagi. Itu bukan tulisan saya. Oleh sebab itu orang buta pun bisa menggambar, demikian juga menulis. Namun demikian tetap dilihat tujuan dari poto itu, apa tujuannya? Jika tujuannya benar, misalnya untuk surat izin kenderaan atau salah satu kelengkapan persyaratan atau paspor atau untuk menetapkan sesuatu, maka itu boleh. Adapun jika hanya untuk mengenang sesuatu, misalnya jika seseorang merasa rindu kepada temannya, lalu ia melihat gambar tersebut, maka itu tidak boleh, karena itu hanya untuk memperbaharui keterikatan hati dengan selain Allah Swt, terlebih lagi jika orang tersebut telah meninggal dunia, lalu ia terus melihat poto tersebut untuk mengenangnya, maka semakin menambah kesedihan[2].

Pendapat DR.Abdul Wahab bin Nashir ath-Thariri (Dosen Universitas Imam Muhammad Ibnu Sa’ud – Riyadh, Saudi Arabia).

أما التصوير العوتوغرافي فقد اختلف فيه فقهاء العصر بين مجيز ومانا، ولعل الأقرب أنه غير داخل في التصوير المنهي عنه؛ لأنه لا ينطبق عليه وصعه، وبينهما من العروق ما لا يخعى على متأمل، ولذا فالراجح جوازه ؛ لأن معنى المضاهاة فيه) التصوير بآلة التصوير العلمي (العيديو ً وإنما هو حبس للظل كانعكاس الصورة على المرآة . ومثل ذلك أيضا ، غير موجود ويراجا لبسط أكثر كتاب)  أحكام التصوير في العقه الإسلامي ) لـ : محمد بن أحمد علي واصل . والله أعلم

Pendapat Lembaga Fatwa Kuwait:

أما تصوير كل ذي روح من إنسان، أو حيوان فهو، إما بحبس الظل كما في التصوير العوتوغرافي، والتلعزيوني فهو جائز على الأرجح من آراء العقهاء المعاصرين لأنه كالصور التي تعكسها المرآه ونحوها

Adapun gambar semua yang bernyawa; manusia atau hewan, dengan cara menahan cahaya, seperti pada poto dan video, maka itu boleh, menurut pendapat yang paling kuat diantara pendapat para ahli Fiqh kontemporer, karena semua itu sama seperti gambar yang dipantulkan kaca cermin dan sejenisnya[3].

Pendapat Al-‘Allamah Syekh Muhammad Bakhyat Al-Muthi’i (w.1354H) (Mantan Mufti Mesir) dan Syekh DR.Yusuf al-Qaradhawi (Ketua Ikatan Ulama Dunia):

Kata [ التصوير – tashwir) dan kata [ النحت – naht). Siapa yang tidak memperhatikan dua istilah ini secara tepat, maka akan terjerumus dalam banyak kekeliruan, seperti yang kita lihat pada zaman kita sekarang ini.

Misalnya kata [ التصوير – tashwir ] yang terdapat dalam banyak hadits shahih yang disepakati keshahihannya, apakah yang dimaksud dengan makna kata [ التصوير – tashwir ] tersebut? yang mereka itu diancam dengan ancaman yang sangat keras.

Banyak diantara mereka yang menyibukkan diri dengan hadits dan fiqh memasukkan ke dalam ancaman ini orang-orang yang pada zaman ini disebut sebagai photographer; orang yang menggunakan alat yang disebut dengan kamera, kemudian mengambil gambar dengan alat tersebut, dan alat tersebut disebut  ( صورة – shurah).

Apakah penamaan ini; orang yang mengambil gambar disebut (مصور – mushawwir) dan perbuatannya disebut [ التصوير – tashwir ] apakah ini hanya sekedar penggunaan bahasa saja?

Tidak seorang pun dari bangsa Arab ketika membuat kata tashwir terlintas di hati mereka tentang ini. Oleh sebab itu, penamaan ini hanyalah penamaan secara bahasa semata.

Tidak seorang pun menyatakan bahwa penamaan ini penamaan syar’i, Karena seni potografi belum dikenal pada masa turunnya syariat Islam, tidak tergambar bagaimana digunakan kata mushawwir untuk orang yang mengambil gambar, karena potografi masih belum ada wujudnya.

Lantas siapa yang menyebut potografer itu mushawwir [مصور] ? Dan siapa yang pula yang menyebut perbuatannya mengambil poto itu disebut tashwir  التصوير ?

Itu adalah ‘urf (tradisi) moderen. Kita, atau kakek kita yang pada masa mereka poto ini muncul, lalu mereka menggunakan istilah tashwir untuk poto.

Padahal bisa saja jika mereka menyebutnya dengan nama lain, bisa saja disebut عكس (‘aks), dan orang yang melakukannya disebut  عكاس ‘ukkas, sebagaimana yang dipakai orang-orang Qathar dan Teluk Arab. Jika salah seorang mereka pergi ke tukang poto, ia akan mengatakan, “ [اريد أن  تعكسني متى آخذ منك العكوس؟ ] “Saya ingin Anda mengambil poto saya, kapan saya bisa mengambil hasil poto saya?”. Bahasa yang mereka gunakan ini lebih mendekati kebenaran. Karena poto itu tidak lebih dari pantulan gambar dengan alat tertentu, sebagaimana pantulan gambar pada cermin. Itu yang disebutkan al-‘Allamah Syekh Muhammad Bakhyat al-Muthi’i Mufti Mesir pada zamannya dalam kitabnya berjudul al-Kafi fi Ibahat at-Tashwir al-Futughrafi.

Poto di zaman kita sekarang ini disebut tashwir. Sedangkan tashwir al-mujassam (gambar berbentuk/tiga dimensi) disebut naht. Ini yang disebut ulama Salaf dengan istilah:  ما له ظل (yang memiliki bayang-bayang). Jenis inilah yang mereka sepakati haramnya, kecuali permainan anak-anak.

Apakah penamaan naht ini mengeluarkannya dari apa yang disebutkan dalam nash-nash dengan ancaman untuk tashwir dan mushawwirin?

Jawabannya, tentu tidak. Karena gambar berbentuk seperti inilah yang sesuai disebut dengan tashwir secara bahasa dan istilah syar’i. karena gambar berbentuklah yang menandingi penciptaan seperti penciptaan yang dilakukan Allah Swt. Karena penciptaan yang dilakukan Allah Swt adalah pembentukan makhluk yang berbentuk, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Qudsi :

“Siapa yang lebih zhalim daripada orang yang menciptakan (sesuatu) seperti penciptaan yang Aku lakukan?!”. (HR. al-Bukhari)[4].

Sumber : 37 Masalah Popular [Ustadz Abdul Shomad Lc, MA]

Footnote :

[1] Syekh Ibnu Utsaimin, Liqa’ al-Bab al-Maftuh, juz.XIX, hal.72.

[2] Syekh Ibn ‘Utsaimin, Durus wa Fatawa al-Haram al-Madani (Pelajaran dan Fatwa yang disampaikan Syekh Muhammad bin Shalih bin ‘Utsaimin di Madinah pada tahun 1416H), juz.I, hal.33.

[3] Fatawa wa Istisyarat Islam al-Yaum, juz.XIII, hal.376. 263263 Fatawa Qitha’ al-Ifta’ Kuwait, juz.IV, hal.256.

[4] Syekh DR.Yusuf al-Qaradhawi, Kaifa Nata’amal Ma’a as-Sunnah, (Dar asy-Syuruf, 1423H), hal.198

Tinggalkan balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here