Bulan Sya’ban Berakhir, Apa Yang Seharunya Kita Perbuat ?

0
256

www.alwaliyah.com | Setelah kita melampaui nisfu sya’ban, berarti masih ada kesempatan bagi kita untuk bertafakur atas segala dosa yang berlalu untuk kita bertaubat kepada Allah SWT. Sebab perintah taubat merupakan penyampaian Rasulullah SAW bagi umatnya, khususnya dalam mengisi akhir bulan Sya’ban. Dalam hal ini Allah SWT telah berfirman dalam Surat 7, Al A’raf, ayat 153 :

وَالَّذِينَ عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ ثُمَّ تَابُوا مِن بَعْدِهَا وَآمَنُوا إِنَّ رَبَّكَ مِن بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 

Ayat ini menggambarkan kepada tiga hal :

Amal kejahatan yang telah dikerjakan oleh kita atau orang-orang yang berdekatan dengan kita, khususnya adanya sentuhan famili atau pendekatan dalam hubungan kemasyarakatan.

Perlu kita ketahui untuk kita insyafi bahwasannya secara garis besar dosa-dosa kita kepada Allah terbagi kepada tiga bahagian :

  1. Dosa-dosa dengan sebab meninggalkan perintah-perintah Allah, baik yang berupa shalat, puasa, membayar zakat, maupun perintah-perintah Allah yang lain. Perintah-perintah keagamaan ini baru diterima taubat kita oleh Allah apabila kita membayarnya untuk melunaskan segala hutang-hutang kita pada-Nya.
  2. Dosa-dosa kita terhadap Allah SWT, seperti minum minuman yang memabukan, makan riba, dan melanggar pelanggaran-pelanggaran lainnya, seperti menyentuh Al-Qur’an tanpa wudhu’ atau tanpa tayammum, menafkahkan harta pada maksiat, dan sebagainya. Maka dosa dalam bagian kedua ini wajib pada penyesalan diri dan kita bertekad untuk tidak kembali lagi mengerjakannya.
  3. Adalah dosa-dosa antara sesama kita manusia, ini adalah dosa yang paling sulit dan susah untuk bertaubat dari padanya, karena dosa-dosa dalam bagian ketiga ini terbagi kepada lima macam dosa:

Pertama, adakala berkenaan dengan harta. Kedua, adakala berkenaan dengan diri atau jiwa. Ketiga, berkenaan dengan kehormatan diri. Keempat, berkenaan dengan pelanggaran pada yang haram. Dan kelima, berkenaan dengan agama.

Adapun yang berkenaan dengan harta orang yang kita ambil, apakah melalui rampasan, pencurian dan sebagainya, apabila memungkinkan maka wajib kita mengembalikan harta orang itu, kita kembalikan kepada yang empunya. Apabila masih ada orangnya atau kepada ahli warisnya. Dan jika kita tidak sanggup mengembalikannya karena harta itu sudah tidak ada lagi atau karena kefakiran, maka hendaklah kita memohon kerelaan dari pada yang empunya harta. Akan tetapi apabila sulit hal keadaan ini karena tidak diketahui lagi yang empunya atau yang empunya itu sudah meninggal dunia, maka hendaklah kita memberikan sedekah menurut ukuran banyaknya harta dengan niat sedekah itu atas nama yang empunya harta tersebut. Atau diberikan umpama harta yang kita ambil itu kepada tempat kebaikan, di samping kita mengerjakan amal kebajikan menurut ukuran dosa-dosa kita. Jika tidak, maka kedhaliman yang telah kita lakukan terus melengket pada yang bersangkutan. Inilah jalan satu-satunya kita bertaubat kepada Allah dan semoga Allah meridhai kita pada hari kiamat.

Adapun yang dosa berkenaan dengan diri dan jiwa, maka hendaklah yang bersangkutan menyerahkan dirinya kepada badan hukum untuk pelaksanaan hukum ke atasnya, atau kepada ahli waris yang bersangkutan dengan menyerahkan diri kita, bersedia dilaksanakan hukum atau diberikan kemaafan. Akan tetapi jika ahli waris sudah tidak ada lagi dan kita tidak memberi tahu kepada badan hukum untuk menyatakan diri kita siap dilaksanakan sanksi hukum, maka barulah kita kembali kepada Allah, bertaubat dan memohon ampunan-Nya, dan memohon keridhaan-Nya agar terlepas diri kita dari hukum Tuhan pada hari kiamat.

Apabila dosa kita itu mengganggu orang lain dengan mencelanya, mencacinya, membuat tuduhan macam-macam, dan menempatkan diri kita adalah maha benar atas semua orang. Perlu yang bersangkutan meminta maaf dan kerelaan dari orang yang telah kita lakukan hal-hal yang tidak wajar ke atasnya. Kita minta maaf pada yang bersangkutan atau ahli warisnya bila yang bersangkutan meninggal dunia. Ini sangat penting agar kita terhindar dari fitnah atau kematian karena dosa atau terjadi kehilangan pada kita dalam arti harta yang kita miliki dalam arti yang luas. Dan ini sering dikatakan dengan hukum karma. Apabila hal keadaan itu tidak dapat kita lakukan karena kita takut sanksi dari padanya, maka larilah kepada Allah, bertaubatlah kita kepada-Nya dan mohon keampunan-Nya. Insya Allah kita diselamatkan oleh Allah, tetapi hukum Allah atas kita masih belum aman kita dari pada-Nya terkecuali Allah telah meridhai-Nya.

 

Renungkanlah hal keadaan ini sebelum kita masuk dalam bulan suci Ramadhan. Karena bulan suci Ramadhan adalah bulan keinsyafan bagi hamba-hamba Allah yang mau insyaf atas dirinya yang selama ini dialah manusia super seperti tidak mengakui adanya Tuhan Yang Maha Kuasa ke atas dirinya.

Mudah-mudahan, Insya Allah, kembali kita kepada Allah dengan sadar dan insyaf, taubat dan memohon keampunan, kiranya kita akan selalu diridhai oleh Allah, dan kita juga diterima oleh-Nya selaku hamba-Nya yang kembali bersih dari dosa dan kesalahan. Amin.

Sumber : Prof. Dr. Tgk. H. Muhibbuddin Waly Al-Khalidy

Tinggalkan balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here