Bagaimanakah Mengenal Allah Melalui Akal Kita ?

0
449
alwaliyah | Ada banyak cara tentunya untuk mengenal Allah SWT. Selama cara itu benar dan sesuai dengan anjuran perintah Allah dan Rasul maka jalan itu menjadi kewajiban untuk dikenal dan dipelajari. Para uilama dari kalangan tauhid telah banyak membuat jalan dan cara ini, semata adlaah untuk mudah, ringan dan cepat untuk mengenal Allah sebagai dzat pencipta alam ini. Salah satu cara itu adalah langkah awal yang harus di tuntuti, cara ini dikenal dengan sebutan :

 “Yakin dan Tiada Keraguan Dalam Hati”

Nah sekarang Penulis bakal sedikit menerangkan cara yang Terakhir yaitu Harus Adanya Dalil.  Mengapakah Harus Adanya Dalil untuk mengenal Allah SWT, Bagaimanakah penjelasannya ? simak penjelasanya sebagai berikut :

Syarat yang ketiga mengenal diri kepada Allah adalah harus sesuai dengan “Dalil”. Makna Dalil disini mengarah kepada dua klasifikasi, yaitu Naqli dan Aqli. Secara istilah dalam beberapa disiplin ilmu agama, makna dalil memiliki berbagai macam pengertian. Dalil dalam ilmu fikih berbeda dengan dalil pada Ilmu Tauhid, demikian juga pada ilmu yang lainnya, seperti Mantiq, Balaghah dan Tasauf. Walaupun demikian makna tersebut terdapat unsur korelasi yang sama. Yaitu “menunjukkan”. Jika dalam mantiq fungsi dalil memberi petunjuk kepada tujuan mantiq itu sendiri, begitu juga ilmu tata bahasa arab atau ilmu balghah juga memiliki fungsi yang sama, yaitu sama-sama menunjukkan kepada arah dari ilmu tersebut. Maka demikian halnya juga Ilmu Tauhid, arti dalil juga bermakna “menunjukkan”, juga merupakan fungsi bagi tauhid. Semua arti disini hanya tinjauan yang bermakna global bukan pada makna khusus.

Untuk lebih jauhnya, definisi Dalil dijelaskan sebagai berikut :
Dalil memiliki dua pengertian, pengertian bahasa dan Istilah. Adapun secara bahasa, yaitu

ألاِرْشَادُ

“Penunjukkan”
Dalil secara istilah umum adalah sebagai berikut :
الدَّلِيْلُ هُوَ لَّذِى يَلْزِمُ مِنَ الْعِلْمِ بِهِ الْعِلْمُ بِشَيْءٍ أَخَر
“Dalil adalah penetapan suatu ilmu dengan ilmu yang lainnya.”
—————————————–
 At‟Ta‟rifat, Ai Hasan „Ali bin Muhammad bin „Ali Al- Husaini Al-Jurjani, hal. 108 (Dar Al-Kotob Al-Ilmiyaha : Beirut- Lebanon).

Maksudnya, bahwa suatu penetapan ilmu atau suatu perbuatan khusus yang dimaksudkan perlu adanya kaitan penetapan ilmu lainnya, arti dari ilmu yang lain disini bermakna pengarah atau bahasa umumnya adalah penunjuk.

Istilah lain dari Dalil disebutkan dalam kitab Lathaif Al-Isyarah:
أَلْمُرْشِدُ أِلَى الْمَطْلُوبِ
“Penunjukkan kepada hal yang dituntut”
Segala hal yang dituntut maka ada hal yang ditunjuki. Untuk itu segala sesuatu yang sifatnya menunjukkan kepada sesuatu tersebut secara bahasa disebut Dalil. Seperti contoh arah menuju masjid maka perlu adanya penunjuk (alamat jalan), memasak sesuatu yang diinginkan maka perlulah penunjuk (resep), demikian juga contoh seseorang yang berkeinginan menjadi presiden atau ulama, maka ia juga harus memiliki penunjuk, yaitu ilmu. Inilah arti dalil dalam segi bahasa.
Adapun dalil menurut istilah Tauhid, disebutkan oleh Syeikh Ibrahim Al-Jurjani dalam kitab Kifayatul Awam sebagai berikut :
أَنَّ الْمُرَادَ بِالدَّلِيلِ الْمُرْشِدِالَّذِى لَا يَحْتَمِلُ النَّقِيْضُ بِوَجْهٍ فَيَتَنَا وَلُ اضَّرُوْرَة وَالْبُرْهَن
“Bahwasanya yang dimaksud dengan Dalil adalah penunjukkan yang tidak hanya membawa kepada satu pandangan saja tapi harus didatangkan kepada dharurah dan burhan”21 
———————————–
 Kifayatul Awam, Ibrahim Bajuri, hal 14 (Darul Ihya il kutub Al-„Arabiyah : Indonesia)

Arti Dharurah bermakna hasil gambaran akal yang tidak perlu kepada berfikir. Sedangkan Burhan adalah segala penunjuk yang dibenarkan oleh panca indra, dapat diterima dengan padangan, penglihatan, perasaan, penciuman, dan persentuhan.

Jika dalam lima panca indra tersebut tersentuh dalil dan semuanya ternilai benar maka barulah dinilai Dalil Tauhidi. Jika tidak demikian maka tidak disebut dalil. Sedangkan makna yang luas pada arti dharurah adalah segala akal fikiran yang tidak perlu kepada pemikian atau usaha untuk berfikir. Contoh seperti 1+1 maka hasilnya 2. Jawaban tersebut tidak perlu dijawab melalui berfikir, semua orang pasti akan menjawab dengan seketiak bahwa hasilnya adalah 2. Contoh lainnya ketika melihat benda, seperti pohon pisang, pepaya atau pena, semua gambaran akal saat menjawab benda-benda tersebut maka tidaklah perlu kepada berfikir. Ketika ditanya tentang pisang maka orang pastilah akan menjawab pisang bukanlah pepaya atau pena.

Berbeda halnya jika ada seseoarang yang bertanya tentang rincian ukuran bumi atau bulan maka jawabanya harus difikirkan untuk beberapa saat bahkan bisa menghabiskan waktu beberapa saat. Istilah seperti ini disebut Nadhari, yaitu segala pemikiran yang perlu kepada proses berfikir.

Semua manusia pastilah tidak dapat menjawab secara rinci dan seketika saat ditanyai ukuran bumi ataupun bulan, menjawab pertanyaan tersebut haruslah menyiapkan beberapa penilitian hingga nanti didapatkan jawabannya. Contoh sebahagian orang yang dizaman sekarang telah bisa menjawab terkait pertanyaan bumi, baik ukurannya, luas, lebar dan bahkan pergerakannya juga. Tentunya rincian jawaban tersebut tidak dapat dijawab secara dharuri akan tetapi harus dengan nadhari tentunya harus melalui serangkaian proses penelitian dengan alat-alat tekhnologi astronomi yang ada. Inilah dua perbedaan antara Dharuri dan  Nadhari.

Adapun contoh burhan dalam tauhid bisa dibuktikan adalah seperti contoh bumi itu ada menunjukkan bahwa adanya keberadaan Allah SWT. Tidak mungkin bumi tercipta sendiri, bulan terbentuk sendiri, matahari, bintang, dan seluruh bintang yang ada di alam semesta berada dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan.
Jangankan itu, bahkan angin dan awan itu terbentuk, lalu ia dapat berhembus sduah barang tentu pasti adalah yang menggerakkan tidak mungkin angin bergerak dengan sendirinya.

Seperti halnya sepokok pohon yang ia dapat dilihat, diraba, didengar, dicium, dan rasakan bahwa sebenarnya pohon tersebut mengalami tahapan proses perkembangan. Mulai saat ia ditanamkan hingga secara berkala ia berubah membesar dan terus membesar hingga menjalar akarnya lalu ia berbuah hingga dapat dipetik hasil buahnya, setelah itu maka ia mati, semua dedaunannya berjatuhan, ranting- rantingnya mulai patah, keutuhan batangnya mulai membusuk dan akhirnya ia pun musnah termakan waktu dan wujudnya hilang. Tanda semacam ini  sebananrya menunjukkan bahwa pastilah ada yang merubahkannya Dialah sang Maha Penciptaan pohon; Allah SWT.

Untuk contoh yang lain perhatikan dua gambar dibawah ini :

Pernahkah kita berfikir bahwa air hujan jatuh ke bumi ternyata melalui beberapa proses sirkulasi. Hujan tidaklah turun begitu saja akan tetapi ia memiliki beberapa proses hukum alam. Perhatikan pada gambar diatas, hujan pada awalnya berawal dari buih laut, biasanya buih laut muncul saat gelombang-gelombang laut menghantam pantai sehingga memunculkan buih-buih yang bertebrangan. Buih-buih ini selanjutnya menuju ke arah langit dan dibawa oleh angin menuju awan. Singkatnya buih-buih tersebut bersatu dengan awan lalu membentuk awan hitam dan berkumpul didalamnya hingga mencapai jumlah yang banyak. Saat proses awan hujan ini berlangusng maka matahari memberikan sinar dengan drajat panas yang pas kepada awan tersebut untuk membantu perbentukan awan hujan sehingga jadilah gumpalan awan hujan yang besar. Proses inilah yang akhirnya nanti disebut hujan. Setelah itu maka awanpun didorong oleh angin untuk menuju suatu tempat turunnya hujan, termasuk gunung. Gunung adalah tempat yang sering diairi air hujan, saat itulah gunung menerima hujan lalu kemudian air ini diarahkan menuju arah laut melalui jalur sungai-sungai yang ada dibawahnya.

Setelah proses ini terjadi, air hujan telah mengembalikan hujan oleh sungai-sungai ke arah laut maka laut pun kembali menghempaskan buih-buih itu dengan bantuan gelombang dan pada akhirnya terciptalah kembali proses-proses yang sama seperti diatas hingga terus terjadi selama gelombang laut terus menghempaskan buih-buihnya.

Allah SWT menggambarkan proses sirkulasi ini  didalam Al-Qur‟an :

Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, tiba-tiba mereka menjadi gembira. (Qs.Ar-Rum : 48)

Sebelum diterangkan dalil burhan pada contoh sirkulasi hujan diatas, silahkan perhatikan pada gambar yang kedua dibawah ini :

Gambar Disamping Menunjukan menunjukkan proses terbentuknya manusia dalam janin. Secara bertahap, janin seorang manusia mengalami perkembangan, ia tercipta dari hasil pertemuan setetes nutfah atau air mani dengan sel telur. Seterusnya air mani ini membentuk satu titik kecil sel yang pada akhirnya akan membentuk sebuah bola yang sangat kecil yang disebut dengan zighot, setelah 4 hari sel tersebut membentuk lalu ia pergi menuju ke dinding rahim ibu dan menempel atau melengket disana untuk beberapa waktu, kemudian zighot inipun masuk kedalam dinding rahim dan mulailah proses pembentukan rangka tubuh manusia. Didalam rahim inilah zighot mulai membelah diri dan memproses pembentukan rangka tubuh manusia, baik otak, tangan, tulang, hidung, rambut, semua urat saraf terbentuk dengan sempurna secara bertahap hingga mencapai 9 bulan, tepat seperti pada gambar diatas.

Allah telah merekam kejadian ini 1400 tahun yang lalu dalam Al-Qur‟an :
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ(12) ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ(13)ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ(14)
“Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (Al-Mu’minun : 12-14) 

Untuk dua contoh ini merupakan bukti dalil burhan yang dapat diterima oleh 5 panca indra manusia, baik contoh burhan pada gambar sirkulasi air hujan diatas ataupun pada gambar yang kedua yaitu proses tercipta manusia didalam rahim. Ketika seseorang manusia mengetahui keberadaan dua realita hukum tersebut diatas maka ia secara tidak langsung telah merasakn makna dalil burhan didalam iman ketauhidannya. Saat hujan ia pasti dapat merasakannya, bisa dilihat, diraba, dicium dan didengar. Demikian juga saat ia merasakan keberadaan janin dalam rahim, manusia dapat merasakan keberadaan tersebut, dilihat dan dapat ditangkap oeh 5 panca indra. Inilah yang dimaksud dengan burhan, bahwa segala sesuatu hukum alam yang dapat ditngkap oleh 5 panca indra maka ia telah menemukan jalan untuk mengenal Allah SWT.

Inilah pengertian dalil Burhan dan Dharurah dalam istilah ilmu tauhid bahwa keduanya saling berhubungan, jika dharurah didapat dari ketiadaan kepada penangkapan panca indra maka burhan harus ada unsur panca indra, bisa dikatakan makna burhan lebih spesifik dari dalil dharurah. Untuk itu dua dalil ini harus ada dalam tauhid, karena masing keduanya memiliki peranan masing- masing dalam memahami kepengetahuan seorang hamba kepada Allah SWT.
Sumber :
“Risalah Tauhid Al-Waliyah”
(Tgk.Habibi M.Waly, S.TH)

Tinggalkan balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here