Kisah Keberanian Sultan Muhammad (Alib Arselan), Dalam Mendirikan Islam

0
460

alwaliyah | Orang-orang saljuk telah mendirikan sebuah pemerintahan saljuk besar yang muncul pada abad ke-5 H/ke-11 M. Otoritasya meliputi wilayah Khurasan, Turkistan, Iran, Irak, Syam dan Asia Tengah. Ray di Iran, kemudian Baghdad di Irak merupakan pusat kekuasaan Sultan Saljuk. Pada saat yang sama berdiri pemerintahan kecil Saljuk di Khurasan dan Karman, juga di Syam (Saljuk Syam), bahkan ada pula Saljuk di Asia Kecil yang disebut dengan Saljuk Romawi. Orang-orang kerajaan Saljuk merupakan orang yang bermazhab Sunni (Ahlusunnah waljamaah).



Dalam pemerintahan Kesultanan Saljuk, terdapat beberapa sultan kerajaan Saluk yang pertama dijuluki atau bergelar Alib Arselan(Singa Pemberani) yang bernama Sultan Muhammad, dan yang kedua Sultan Maliksyah, Sultan Nizhamul Muluk.

1.      Sultan Muhammad, Bergelar Alib Arselan (Singan Pemberani).
Alib Arselan memegang kendali pemerintahan setelah meninggalnya Thughril Baek,pamannya. Sebelumnya telah terjadi sengketa, tentang siapa yang berhak memimpin pemerintahan di negeri itu setelah Thughril Wafat? Namun akhirnya Alib Arselan mampu memenangkannya.

Sebagaimana pamannya, Alib Arselan juga dikenal sebagai sosok pemberani dan cerdik. Dia telah mengambil siasat yang sangat jempolan dalam penaklukan wilayah-wilayah lain, dimana sebelum melakukan penaklukan dia akan selalu berusaha mencari kepastian, apakah negeri-negeri yang berada dibawah kekuasaan Saljuk betul-betul setia atau tidak ? jika dia mantap bahwa negeri itu sepenuhnya Loyal, dia akan beranjak untuk menaklukkan negeri yang lain. Dia juga dikenal sebagai sosok yang senang berjihad di jalan Allah dan gencar menyebarkan agama Islam di berbagai negeri Kristen yang berbatasan dengan wilayah kekuasaannya, seperti Armenia dan Romawi. Spirit Jihad Islamlah yang menjadi pendorong utama dilakukannya pembukaan negeri-negeri oleh Alib Arselan. Dia menjadi komandan jihad orang-orang Saljuk. Dia begitu antusias menebarkan Islam di negeri-negeri itu dan memancangkan panji-panji Islam berkibar di wilayah-wilayah Byzantium.

Kemudian dia juga melakukan penyerbuan ke Syam bagian Utara dan mengepung negeri Mudarisah di Aleppo, sebuah negeri yang didirikan oleh Saleh bin Muradas yang berdasarkan Madzab Syiah pada tahun 414 H / 1023 M. Dia memaksa pemimpin pemerintah ini, Mahmud bin Saleh bin Maradas untuk kembali mengakui pemerintahan Khilaffah Abbasiyah dan tidak lagi mengindik kepada pemerintah Fatimiyyah(Ubaidiyah). Hal itu terjadi sekitar Tahun 462 H / 1070M.

Penaklukan-penaklukan Oleh Alib Arselan ini telah membuat Marah Kaisar Romawi Romanus Diogonez (berkuasa Pada 1076-1071 M-Pent). Oleh sebab itu dia bertekad melakukan serangan balik dalam rangka membela dan mempertahankan kekaisarannya. Pasukan kaisar berkali-kali terlibat perang dengan pasukan Saljuk. Dianatara peperangan yang paling penting adalah perang Maladzkird (Manzikart) yang terjadi pada tahun 483 H atau bertepatan dengan bulan Agustus 1070 M.

Ibnu Katsir Berkata, “Pada Tahun itulah kaisar Romawi Rumanus berangkat dalam satu pasukan yang besar laksana gunug yang terdiri dari pasukan Romawi, Georgia, Perancis. Jumlah pasukan dan persenjataannya demikian kuat. Dalam pasukan itu, ikut serta 35 ribu Bitriq (komandan Pasukan Romawi). Dibawah seorang Bitriq ada 100 ribu penunggang Kuda. Pasukan yang dating dari Perancis ada berjumlah 35 ribu, sedangkan pasukan yang bermarkas di Konstatinopel berjumlah 15 ribu personil, ikut bersamanya 100 ribu tukang seruling dan penggali lobang, 1000 kuda kerja, 400 gerobak pengangkut sandal dan paku, 1000 gerobak lainnya mengangkut yang mengangkut senjata,lampu, alat perang, pelempar batu, dan manjaniq dalam jumlah ribuan dan 200 orang. Apa yang menjadi ambisinya,adalah untuk menghancurkan islam.

Para Bitriq telah mampu menyeberangi negeri-negeri hingga akhirnya sampai di Baghdad. Kaisar menasehati wakilnya untuk berlaku baik pada khalifah dengan mengatakan “bersikap lunaklah kalian padanya sebab dia adalah teman kita!” kemudian setelah mamalik (kerajaan-kerajaan kecil) di Irak, Khurasa telah bisa ditaklukan, maka berangkatlah pasukan Romawi itu ke Syam untuk mengambil alih Syam dari tangan Kaum Muslimin. Allah Berfirman : “ Demi umurmu (Muhammad) sesungguhnya mereka terombang ambing didalam kemabukkan (kesesatan).” (Al-Hijr : 72).

Maka mereka dihadang oleh Sultan Alib Arselan yang saat itu memimmpin Pasukan sekitar 20 ribu  “disebuah tempat yang disebut dengan Zahwah. Peristiwa ini terjadi pada hari Rabu Tanggal 25 Dzulqa’dah. Sultan Alib Arselan merasa cemas melihat jumlah Pasukan Romawi yang sedemikian banyak. Melihat hal ini, maka seorang Faqih yang bernama Abu Nashr Muhammad bin Abdul Malik Al-Bukhari, menasehati agar waktu perang ditetapkan pada hari Jum’at setelah matahari tergelincir, tatkala para khatib sedang mendoakan kemenangan kaum muslimin.

Saat tiba waktunya dan kedua pasukan saling berhadapan, maka sultan turun dari kudanya dan bersujud kepada Allah dengan melekatkan wajahnya ke tanah kemudian dia berdoa kepada Allah agar memberikan kemengan,maka Allah turunkan kemenangan pada kaum muslimin dan memberikan karunia-Nya yang besar. Kaum muslimin mampu membunuh demikian banyak tentara Romawi dan Kaisar mereka ditawan oleh seorang pemuda yang berasal dari Romawi. Tatkala dia berada di hadapan sultan Alib Arselan, maka dia dipukul dengan tiga pukulan tangan sambil mengatakan, “Jika saya menjadi tawananmu, lalu apa yang akan kau lakukan terhadapku?.” Dia berkata “Pasti semua yang buruk-buruk!.” “Lalu apa yang akan saya perbuat menurut sangkaanmu?” lanjut sultan. “Mungkin kau akan membunuhku dan kau giring aku dinegerimu, atau mengampuniku dan mengambil tebusan dariku dan mengembalikan aku kepada negeriku.” Jawab Romanus. “tak ada yang aku inginkan kecuali mengambil tebusan darimu” Tegas Sultan.
Setelah itu sultan mengambil tebusan 150 ribu dinar dari Romanus. Lalu Romanus berdiri didepan sultan dan member minum kepada sultan sambil mencium tanah didepan sultan. Lalu kemudian dia mencium tanah yang mengarah akan khalifah berada sebagai rasa Hormat. Lalu sultan sendiri member 1000 dinar sebagai perbekalan pulang dan mengirim beberapa komandan pasukan mengantarnya hingga jarak dia selamat sampai negerinya. Sultan sendiri mengantarkannya sejauh 4 mil. Para tentara yang mengatarkan Romanus membawa panji-panji Laa Ilaaha IlalAllah Muhammad Rasulullah.

Sultan Alib Arselan dikenal sebagai sosok manusia saleh saleh yang selalu mencari sebab-sebab kemenangan dari segi Maknawi dan Materi. Dia selalu dekat dengan Ulama dan mengambil nasehat mereka. Alangkah indahnya nesehat yang diberikan oleh seorang Alim rabbani, Abu Nashr Muhammad bin Abdul Malik Al-Bukhari Al-Hanafi dalam perang Maladzkird tatkala dia berkata kepada sultan Alib Arselan, “Sesungguhnya kau berperang dalam membela agama yang Allah janjikan akan member pertolongan dan kemenangan atas semua agama. Saya berharap Allah telah menuliskan kemenangan ini atas namamu. Maka hadapilah mereka di jam-jam saat para khatib Jumat sedang berdoa diatas mimbar, sebab mereka berdoa untuk kemenagan kaum mujahidin.”

Maka tatkala waktunya datang, dia menjadi imam shalat bagi kaum muslimin. Sultan pun menangis dan seluruh hadirin pun ikut menangis. Dia berdoa yang diamini oleh semua pasukannya. Lalu dia pun berkata “Barang siapa yang ingin meninggalkan tempat, maka tinggalkanlah, sebab disini tidak ada seorang sultan yang menyuruh dan melarang !.” dia pun segera mengambil busur, anak panah, dan pedang. Dia pasang pelana kuda dengan tangannya sendiri. Para prajurit melakukan hal yang sama. Kemudian dia memakai pakaian putih-putih dan bersumpah untuk berjuang hingga titik darah penghabisan. Dia berkata dengan lantang “Jika saya terbunuh, maka inilah kafanku!”. Allah huakbar! Terhadap orang-orang yang demikian inilah pertolongan Allah akan senantiasa turun.

Sultan sendiri terbunuh ditangan seseorang yang membalas dendam bernama Yusuf Al-Kharwarizmi, pada 10 Rabi’ul Awwal Tahun 456 H / 1072 M. Dia disemayamkan dikota Marw disamping kuburan ayahnya. Anaknya yang bernama Maliksyah menggantikan posisi Ayahnya.
Semasa hidupnya Sultan Alib Arselan dikenal sebagai sosok yang Murah hati, cinta kaum fakir miskin, selalu bersyukur atas semua karunia yang Allah berikan kepadanya. Pernah suatu hari sultan melewati kaum fakir khuraisin di Marw, lalu dia menangis. Dia memohon kepada Allah, semoga Allah menjadikannya sebagai orang kaya. Sultan juga dikenal sebagai sosok yang banyak bersedekah. Pada bulan Ramadhan dia bersedekah sebanyak 15 ribu dinar. Ditempatnya bekerja ada sekian nama kaum fakir yang senantiasa yang ia santuni. Tidak ada satupun perbuatan criminal atau perampokan. Rakyat telah puas dengan pajak asli yang diambil dua kali dalam setahun, sebagai ungkapan kasih-sayang pada mereka.
Sumber :
“Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Ustmaniyah”
“Prof. DR. Ali Muhammad Ash-Shalabi”

Tinggalkan balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here