Sejarah Singkat Sulthan Iskandar Muda

0
362

alwaliyah.com | Sulthan Iskandar Muda (1607-1606 M) adalah Sulthan aceh yang ke-12 yang dimulai dari Sulthon pertama Ali Mughayyad Syah (1514-1530M). pada masa pemerintahan Iskandar Muda, Aceh mencapai puncak kemakmuran dan kejayaan, sehingga wilayahnya meluas kea rah Selatan, dan Aceh memperoleh kemajuan ekonominya melaui sistem monopoli perdagangan dipesisir Sumatra Barat sampai Indra Pura. Karena itulah Pariaman dijadikan oleh Aceh sebagai bandar terpenting untuk perdagangan lada dipesisir Sumatra Barat. Sebagaimana dimaklumi bahwa dalam sejarah, Sulthan Iskandar Muda meneruskan perlawanan terhadap Portugis dan Johor dengan Tujuan mengusai Selat Malaka dan daerah-daerah Penghasil Lada. Ekspedisi Iskandar Muda dengan sejumlah besar armada kapal perangnya ke Pahang dan Malaka merupakan kisah kepahlawanan yang dibanggakan Rakyat Aceh. Meskipun ekspedisi ke Malaka pada Tahun 1629 tidak berhasil mengusir Portugis. Penaklukan pada masa Iskandar Muda seperti Aru dan Pahang adalah pada tahun 1618 M. Sedangkan kedah pada tahun 1619 M. Perak Pada tahun 1620 M, kemudian Indra Giri dan Batusawar Ibukota Johor. Dalam pada itu Sulthon Iskandar Muda pula menolak permintaan Inggris dan Belanda yang ingin membeli lada di pesisir Sumatra Barat. Perllu dicatat bahwa pada masa Iskandar Muda, bendera aceh yang resmi ialah bendera yang bewarna merah,dengan bagian atas terdapat gambar bintang-bintang bersudut lima yang mengapit bulan sabit, dan dibawahnya terdapat gambar pedang. Harus diketahui pula bahwa kesulthanan Aceh menjalin hubungan dengan kesulthanan Usmani Turki (Ottoman) dengan menerima utusan resmi sultahn Ahmad 1 (1012-1026 H/1603-1617 M) yang terdiri atas perwira-perwira tinggi, antara lain Celebi Ahmad, Celebi Ridwan, dan Nahkoda Yakut Istanbul.

  Sulthonah Safiyatuddin Tajul ‘Alam adalah putri pertama Sulthan Iskandar Muda dan janda Iskandar Sani, yang telah memerintah Aceh selaku Ratu pertama sebelum putri-putri sesudahnya yang merupakan semuanya merupakan ratu-ratu Aceh dari keturunan langsung Sulthan Iskandar Muda. Pada awal pemerintahannya, kegemilangan Aceh dalam bidang Politik, ekonomi, dan Militer mulai menurun. Karena ketidak senangan sebagian orang Aceh kepada pemimpin Wanita, dan karena meningkatnya para kekuasaan Uleebalang. Akan tetapi dengan keputusan Ulama Besar kerajaan Aceh, yakni Syekh Abdurouf Assingkili (Berasal dari Singkil), seorang Ulama yang dikenal dalam sejarah Aceh sebagai Teungku Syiah Kuala, dengan kekuasaan CakraWala ilmu keislaman yang beliau miliki, akhirnya Ratu Safiayatuddin Taajul ‘Alam dikuatkan selaku ratu Aceh pertama. Tentulah hal keadaan ini tidak terlepas dari pada argumentasi Fiqih islam setelah memperhatikan perkembangan sejarah, seperti yang telah kami sebutkan diatas.
Sebelum Sulthan Iskandar Muda meninggal dunia, beliau telah berwasiat supaya putrinya ratu Safiyatuddin satu waktu dikawinkan dengan putra sulthan Ahmad Syah  dari kesulthanan Pahang. Hal keadaan ini demi mengukuhkan hubungan antara kerajaan Aceh dengan kerajaan-kerajaan Melayu kususnya Pahang. Dan sulthan Iskandar Muda disamping memperhatikan pengembangan-pengembangan agama Islam dengan mendirikan masjid-masjid , seperti masjid Baiturahman yang megah diAceh, dan pusat-pusat Pendidikan Islam atau dayah; baginda juga membangun taman Ghairah (Daar Al-Isyaq) sebagai tempat hiburan bagi istrinya yang berasal dari Pahang beserta keluarganya, disekitar bangunan bernama Gunongan di Banda Aceh itu. Pengangkatan Sulthan Iskandar Sani adalah berdasarkan whasiat sulthan Iskandar Muda untuk menjaga hubungan Aceh dan daerah taklukannya di Semenanjung Malaka. Berdasarkan washiyat itulah Syaikh Nuruddin Ar-Raniri, seorang ulama besar yang berasal dari Gujarat India, dapat menerima washiyat itu, disamping melihat kepentingan keutuhan kerajaan Aceh dan persatuan Ummat. Meskipun beliau cepat meninggalkan Aceh ketika Aceh dipimpin oleh Sulthan Iskandar sani, namun ketetapan tersebut dengan para Ulama lainnya ditunjang dan diperkokoh oleh Teungku Syiah Kuala yang diangkat selaku pengganti pengisian kekosongan yang telah ditinggalkan oleh Ar-Raniri dalam kedudukan Kali Malikon Ade (Qodhi malik Al-‘Adl), atau ketua mahkamah Agung Kerajaan Aceh. Gelar Sulthon Iskandar Sani itu adalah gelar yang diberikan para pemimpin adat dan rakyat Aceh selaku Sulthan yang kedua (Ats-Tsaani).

Meurah Pupok adalah putranya sendiri dan putra sau-satunya. Ia dihukum rajam oleh Sulthan Iskandar Muda karena telah berzina dengan istri seorang seorang perwira tinggi. Dan dalam hukom islam, hukom rajam dilakukan pada pria yang sudah beristri atau pada wanita yang telah bersuami. Pada ketika Sulthan Iskandar Muda dicegah oleh penasehatnya supaya baginda mengurungkan hukuman rajam itu, Lantas baginda menjawab ; “mati anak ada makamnya, mati hukum kemana lagi akan dicari keadilan”. Selaku manusia biasa dan Meurah Pupok putra satu-satunya dari Sulthan Iskandar Muda, tidak lama setelah peristiwa bersejarah itu, baginda Sulthan sakit dan meninggal dunia. Karena telah merasakan sebelumnya, maka baginda sulthan mengumumkan kepada ummat washiatnya diatas, dan se mua ulama Aceh seperti SYaikh Nuruddin Ar-RaniriSyeikh Abdurra’uf as-Singkili, bahkan juga  Syaikh as-Syamsuddin Assumatrani (seorang ulama dan Mistikus Besar) serta pengikutnya Syaikh Hamsa Al-Fansuri. Semuanya para ulama itu dapat menerima wasiat Iskandar Muda selaku Wilaayatul ‘Ahdi, yakni keputusan raja untuk mengangkat putra mahkotanya, Sulthan Iskandar Sani.

Demikianlah sedikit cerita yang bisa kami angkat semoga dapat bermanfaat bagi pembaca, aamiin.

 

 

Sumber : Tgk.Habibie M.Waly, S.TH

Tinggalkan balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here