Pahami Dua Hal Ini Jika Amal Ibadah Anda Tidak Ditolak Allah

www.alwaliyah.com

alwaliyah.com | Ketika Manusia beramal, tentu hasil dan cara beramalnya akan berbeda-beda. Demikian juga Allah SWT saat menerima amal manusia juga tidaklah sama. Itulah sebabnya mengapa sebahagian manusia amal yang selalu dilakukannya tidaklah diterima oleh Allah SWT, bahkan sebaliknya amal yang sedikit diterima oleh-Nya. Tentu ada sebab tersendiri mengapa hal ini terjadi, jawabannya ada pada diri kita masing-masing bagaimanakah cara memandang amal itu dihadapan Allah SWT. Lalu bagaimanakah sesungguhnya cara beramal yang mudah diterima oleh Allah SWT, mari kita temukan jawaban ini didalam kitab Tasawuf sebagai beriku :

Pertama :ย Harus Memandang Amal Bukan Tempat Ketergantungan.ย 

Mengenai Hal ini Syeikh Imam Ibnu Athaillah berkata dalam kitab Al-Hikamnya :

ย ู…ูู†ู’ ุนู„ุงู…ุงุชู ุงู„ุง ูุนู’ุชูู…ุงุฏู ุนูŽู„ู‰ูŽ ุงู„ุนูŽู…ู„ู ู†ู€ูู‚ู€ูŽุตูŽุงู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุฌุงุกูุนูู†ู’ุฏูŽ ูˆูุฌููˆู’ุฏู ุงู„ุฒู‘ูŽู„ู„

Sebagian dari tanda bahwa seorang itu bergantung pada kekuatan amal dan usahanya, yaitu berkurangnya pengharapan atas rahmat dan karunia Allah ketika terjadi padanya suatu kesalahan dan dosa.

Orang yang melakukan amal ibadah itu pasti punya pengharapan kepada Allah, meminta kepada Allah supaya hasil pengharapannya, akan tetapi jangan sampai orang beramal itu bergantung pada amalnya, karena hakikatnya yang menggerakkan amal ibadah itu Allah,. sehingga apabila terjadi kesalahan, seperti, terlanjur melakukan maksiat, atau meninggalkan ibadah rutinnya, ia merasa putus asa dan berkurang pengharapannya kepada Allah.ย  sehingga apabila berkurang pengharapan kepada rohmat Alloh, maka amalnyapuan akan berkurang dan akhirnya berhenti beramal.

seharusnya dalam beramal itu semua dikehendaki dan dijalankan oleh Alloh. sedangkan dirikita hanya sebagai media berlakunya Qudrat Allah.

Kalimat: Laa ilaha illallah. Tidak ada Tuhan, berarti tidak ada tempat bersandar, berlindung, berharap kecuali Allah, tidak ada yang menghidupkan dan mematikan, tidak ada yang memberi dan menolak melainkan Allah.

Pada dasarnya syariโ€™at menyuruh kita berusaha dan beramal. Sedang hakikat syariโ€™at melarang kita menyandarkan diri pada amal dan usaha itu, supaya tetap bersandar pada karunia dan rahmat Allah subhanahu wataโ€™ala.

Apabila kita dilarang menyekutukan Alloh dengan berhala, batu, kayu, pohon, kuburan, binatang dan manusia, maka janganlah menyekutukan Allah dengan kekuatan diri sendiri, seakan-akan merasa sudah cukup kuat dapat berdiri sendiri tanpa pertolongan Allah, tanpa rahmat, taufik, hidayat dan karunia Allah subhanahu wataโ€™ala.

Pertama : Pahami Derajat “Tajrid” dan “Kasab” sebelum beramal.

Syeikh Imam Ibnu Athaillah pernah berkata :

ย ุฅุฑุงุฏูŽุชู€ููƒูŽ ุงู„ุชูŽุฌู’ุฑููŠู’ุฏูŽ ู…ุนูŽ ุงูู‚ุงู…ุฉูุงู„ู„ู‡ู ุงููŠู‘ุงูƒูŽ ูู‰ ุงู„ุงูŽุณู’ุจูŽุงุจู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดูŽู‡ู’ูˆุฉู ุงู„ุฎูููŠู‘ูŽุฉูุŒ ูˆูŽุฅุฑุงุฏูŽุชู€ููƒูŽ ุงู„ุงูŽุณู’ุจูŽุงุจู ู…ุนูŽ ุงูู‚ุงู…ุฉูุงู„ู„ู‡ู ุงููŠู‘ุงูƒูŽ ูู‰ ุงู„ุชูŽุฌู’ุฑููŠู’ุฏูŽ ุงูู†ู’ุญุทุงุท ูŒ ุนู† ุงู„ู‡ูู…ู‘ูŽุฉู ุงู„ุนูŽู„ูŠู‘ูŽุฉู

“Keinginanmu untuk tajrid [hanya beribadat saja tanpa berusaha untuk dunia], padahal Allah masih menempatkan engkau pada golongan orang-orang yang harus berusaha [kasab], maka keinginanmu itu termasuk nafsu syahwat yang samar [halus]. Sebaliknya keinginanmu untuk berusaha [kasab], padahal Allah telah menempatkan dirimu pada golongan orang yang harus beribadat tanpa kasab [berusaha], maka keinginan yang demikian berarti menurun dari semangat yang tinggiโ€.

Sebagai seorang yang beriman, haruslah berusaha menyempurnakan imannya dengan berfikir tentang ayat-ayat Allah, dan beribadah dan harus tahu bahwa tujuan hidup itu hanya untuk beribadah(menghamba) kepada Allah,sesuai tuntunan Al-qurโ€™an.

Tetapi setelah ada semangat dalam ibadah, kadang ada yang berpendapat bahwa salah satu yang merepoti/mengganggu dalam ibadah yaitu bekerja(kasab). Lalu berkeinginan lepas dari kasab/usaha dan hanya ingin melulu beribadah.

Keinginan yang seperti ini termasuk keinginan nafsu yang tersembunyi/samar.

Sebab kewajiban seorang hamba, menyerah kepada apa yang dipilihkan oleh majikannya. Apa lagi kalau majikan itu adalah Allah yang maha mengetahui tentang apa yang terbaik bagi hambanya.

Dan tanda-tanda bahwa Alloh menempatkan dirimu dalam golongan orang yang harus berusaha [kasab], apabila terasa ringan bagimu, sehingga tidak menyebabkan lalai menjalankan suatu kewajiban dalam agamamu, juga menyebabkan engkau tidak tamak [rakus] terhadap milik orang lain.

Dan tanda bahwa Allah mendudukkan dirimu dalam golongan hamba yang tidak berusaha [Tajrid]. Apabila Tuhan memudahkan bagimu kebutuhan hidup dari jalan yang tidak tersangka, kemudian jiwamu tetap tenang ketika terjadi kekurangan, karena tetap ingat dan bersandar kepada Tuhan, dan tidak berubah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban.

Syeikh Ibnu โ€˜Atoillah berkata : โ€œAku datang kepada guruku Syeikh Abu Abbas al- mursy. Akuย  merasa, bahwa untuk sampai kepada Allah dan masuk dalam barisan para wali dengan sibuk pada ilmu lahiriah dan bergaul dengan sesama manusia (kasab) agak jauh dan tidak mungkin. tiba-tiba sebelum aku sempat bertanya, guru bercerita: Ada seorang ahli dibidang ilmu lahiriah, ketika ia dapat merasakan sedikit dalam perjalanan ini, ia datang kepadaku sambil berkata: Aku akan meninggalkan kebiasaanku untuk mengikuti perjalananmu. Aku menjawab: Bukan itu yang kamu harus lakukan, tetapi tetaplah dalam kedudukanmu, sedang apa yang akan diberikan Allah kepadamu pasti sampai kepadamu. Semoga penjelasan ini bermanfaat bagi kita semua.

Referensi : Syarah Al-Hikam Imam ibnu ‘Atho’illah

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like