Kisah Kuburan Berbicara Dikala Sayyidah Fatimah Wafat

alwaliyah | Ada banyak kisah hikmah yang ada didalam islam, termasuk dalam sejarah para sahabat nabi kita Nabi Muhammad SAW. Kisah hikmah ini bertujuan sebagai bahan iktibar kita untuk terus dapat memperbaiki diri dan mempererat hubungan dengan Allah beserta diantara sesama setiap makhluk-Nya.

Tentu banyaklah dimana-mana kita mendengar itibar hikmah yang terjadi disekeliling kita bahkan dalam sejarahpun juga tertulis dan kita pastilah telah mendengar dari bahagian-bahagian itu, Namun dari seluruh kisah yang sering kita dengar nyatanya terdapat satu kisah hikmah unik yang pernah terjadi pada Sayyidah Fatimah Az-Zahra wafat, jenazah putri kesayangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu diusung oleh empat orang-orang saleh, yaitu suaminya sendiri Sayyidina Ali, kedua putranya Hasan dan Husain, serta sahabat Abu Dzar al-Ghifari.

Kisah ini diambil dinuqil dari kitab Durratun Nashihin fil Wa’dzi wal Irsyadi karya daripada Syekh Utsman bin Hasan Al-Khaubawi (Semarang: Toha Putra, tt, hal. 146-147).

Ada peristiwa unik disini, Ketika Jenazah Sayyidah Fatimah sudah tiba di samping liang kubur dan siap dikebumikan, Abu Dzar al-Ghifari langsung berkata kepada liang kubur yang akan menjadi tempat peristirahatan terakhir untuk Sayyidah Fatimah.

“Wahai kubur yang akan menjadi tempat tinggal fatimah, tahukah kamu jenazah siapakah yang kami bawakan ini?” ucap Abu Dzar al-Ghifari.

Beliau berhenti sejenak lalu berkata kembali :

“Ini adalah jenazah seorang yang mulia Sayyidah Fatimah, seorang putri Rasulullah, beliau adalah istrinya Sayyidina Ali, dan Ibunda Hasan dan Husain,” tegas Abu Dzar.

Setelah Abu Dzar berkata demikan, tidak lama kemudian orang-orang yang mengantar jenazah Sayyidah Fatimah langsung mendengar suara dari dalam kubur:

“Aku bukanlah tempat bagi keturunan orang terhormat, bukan pula tempat bagi keturunan orang kaya. Aku adalah tempat amal saleh, maka tidak akan selamat dariku kecuali orang yang banyak berbuat kebaikan, orang yang hatinya bersih dan orang yang ikhlash dalam beramal.

Kisah ini singkat namun penuh dengan makna, ternyata didalam kubur nanti semua manusia sama, orang kaya dan miskin sama, tidak ada seorangpun yang dapat menunjukkan kemuliaannya dan keagungannya didalam kubur melainkan sama. Itulah sebabnya mengapa Rasulullah selalu memberi simbol kuburan bagi kehidupan kita, secara tidak langsung Beliau ingin memberi tahu kelak didalam kuburan tidak ada satupun manusia yang dapat hidup mewah, penuh dengan harta, tetap menjadi mulia melainkan dimata tanah kubur adalah sama. Semua memakai kafan yang sama tanpa ada perbedaan melainkan derajat ketakwaan kita kepada Allah, disinilah tolak ukur kebahagian hidup di alam barzakh kelak.

Soal keadilan ini pun berlaku pada tataran sosial. Rasulullah menolak diskriminasi dengan alasan strata sosial dan ekonomi atau faktor keturunan. Tak heran, saat Rasulullah mendapati para sahabatnya canggung menghukum seorang pencuri dari subklan Bani Makhzum lantaran kebangsawanannya, beliau berdiri dan berpidato di depan khalayak:

“Sungguh orang-orang sebelum kalian hancur lantaran apabila ada bangsawan mencuri, dibiarkan; sementara apabila ada kaum lemah mencuri, dihukum. Demi Allah, seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, pasti aku potong tangannya.” Demikian diriwayatkan Imam Muslim.  Wallahu a’lam. Semoga kisah singkat ini menjadi bahan itibar bagi kita semua.

Editor : Tgk Habibie M. Waly S.TH

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like